Dua Bulan Belajar AI, Sampai Akhirnya Gue Membuat Aplikasi Dhuwit
AISelamat datang kembali di blog ini pada tahun 2026.
Gila, lama banget gue nggak nulis.
Tulisan terakhir gue terbit pada Desember 2025. Setelah itu, blog ini kembali sunyi. Tidak ada tulisan baru, tidak ada opini aneh, dan tidak ada keresahan yang sengaja gue lempar ke internet.
Padahal, kepala gue tetap berisik.
Ada banyak hal yang sebenarnya ingin gue tulis. Tentang pekerjaan, teknologi, kehidupan, kebiasaan manusia, sampai pemikiran-pemikiran random yang terkadang muncul pada waktu yang tidak tepat.
Entah kenapa, semuanya hanya berhenti sebagai catatan kecil. Ada yang tersimpan di aplikasi catatan, ada yang masuk ke draf, dan sebagian besar berakhir hilang karena gue terlalu lama menunda.
Jadi, anggap saja tulisan ini sebagai pintu masuk baru.
Mulai sekarang, gue ingin kembali lebih sering menulis di sini. Mungkin tentang pengalaman pribadi, insight yang baru gue pelajari, teknologi, aplikasi yang sedang gue bangun, atau opini-opini aneh yang belum tentu semua orang setuju.
Mungkin beberapa tulisan gue nanti bisa bermanfaat.
Mungkin juga hanya membuat kalian berpikir, “Ini orang sebenarnya sedang ngomongin apa?”
Tidak masalah.
Karena sejak awal, blog ini memang bukan tempat untuk selalu menemukan jawaban. Kadang, kita hanya membutuhkan tempat untuk meletakkan pertanyaan.
Dan tulisan pertama gue pada 2026 ini akan dimulai dari sesuatu yang selama dua bulan terakhir benar-benar mengubah cara gue melihat teknologi:
Artificial Intelligence.
Dua Bulan Belajar AI dan Menyadari Teknologi Sudah Sejauh Ini
Awalnya, gue melihat AI seperti kebanyakan orang melihatnya.
Sebuah tempat untuk bertanya.
Bisa membantu mencari ide, merapikan tulisan, membuat caption, menerjemahkan kalimat, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang tiba-tiba muncul di kepala.
Sederhana.
Tinggal ketik pertanyaan, tunggu beberapa detik, kemudian jawabannya muncul.
Namun, semakin lama gue menggunakannya, semakin gue sadar bahwa AI bukan sekadar mesin pencari dengan gaya bicara yang lebih manusiawi.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar di baliknya.
Selama kurang lebih dua bulan, gue mencoba belajar AI dengan lebih serius. Bukan hanya belajar bagaimana memberikan pertanyaan, tetapi juga bagaimana menyusun instruksi, membangun alur kerja, merancang fitur, membaca kesalahan, sampai mengembangkan sebuah ide menjadi produk yang benar-benar bisa digunakan.
Gue mulai belajar tentang prompt, logika aplikasi, struktur database, UI/UX, debugging, workflow, automation, sampai bagaimana menghubungkan beberapa layanan agar bisa bekerja sebagai satu sistem.
Apakah setelah dua bulan gue langsung menjadi ahli AI?
Tentu tidak.
Bahkan mungkin masih banyak hal mendasar yang belum gue pahami.
Namun, dua bulan itu cukup untuk membuat gue sadar bahwa batas antara “gue punya ide” dan “gue berhasil membuat sesuatu” sekarang semakin tipis.
Dulu, ketika punya ide aplikasi, pikiran pertama gue adalah:
“Siapa yang bisa membuat ini?”
Sekarang pertanyaannya berubah menjadi:
“Gue bisa mulai membuat versi pertamanya dari mana?”
Perubahan pertanyaan sederhana itu ternyata mengubah banyak hal.
AI Bukan Mesin Sulap
Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika orang mulai menggunakan AI.
Kita menganggap AI bisa menyelesaikan semuanya hanya dengan satu perintah.
Ketik satu kalimat, lalu aplikasi langsung selesai.
Ketik satu perintah, kemudian bisnis langsung berjalan.
Ketik satu pertanyaan, lalu seluruh masalah hidup mendapat jawaban.
Sayangnya, tidak sesederhana itu.
AI memang bisa membantu menulis kode, memberikan ide fitur, menyusun struktur data, atau mencari penyebab sebuah kesalahan. Namun, AI tidak selalu memahami apa yang sebenarnya kita inginkan.
Kadang jawabannya terlalu umum.
Kadang aplikasinya terlihat berjalan, tetapi ternyata menyimpan banyak masalah.
Kadang satu fitur berhasil diperbaiki, tetapi fitur lain justru ikut rusak.
Kadang juga AI dengan sangat percaya diri memberikan jawaban yang ternyata salah.
Di situlah gue mulai memahami satu hal:
Menggunakan AI bukan berarti berhenti berpikir. Justru kita harus berpikir lebih jelas.
Kita tetap harus mengetahui masalah apa yang ingin diselesaikan, siapa yang akan menggunakan produknya, bagaimana alurnya, data apa yang dibutuhkan, dan apa yang akan terjadi ketika sistem mengalami kesalahan.
AI bisa membantu mempercepat pekerjaan.
Namun, keputusan akhirnya tetap berada di tangan manusia.
AI bisa membuat kode.
Tetapi manusia yang harus menentukan apakah kode tersebut benar-benar berguna.
AI bisa memberikan seratus ide.
Tetapi manusia yang harus memilih satu ide untuk dikerjakan sampai selesai.
Dari Catatan Keuangan Sampai Menjadi Dhuwit
Dari proses belajar AI itulah akhirnya lahir sebuah aplikasi bernama Dhuwit.
Nama yang sangat sederhana.
Dhuwit berarti uang.
Namun, seperti uang yang selalu punya cerita, proses pembuatan aplikasi ini juga cukup panjang.
Ide awalnya muncul dari masalah yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: mengatur keuangan pribadi.
Gue sering berpikir bahwa banyak orang sebenarnya mendapatkan penghasilan, tetapi tidak benar-benar mengetahui ke mana uangnya pergi.
Gaji masuk.
Tagihan dibayar.
Makan, transportasi, belanja, cicilan, dan kebutuhan lainnya terus berjalan.
Kemudian, menjelang akhir bulan, kita melihat saldo dan mulai bertanya:
“Uangnya habis buat apa saja?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya sering tidak jelas.
Bukan karena kita tidak bisa menghitung.
Masalahnya, kita jarang mencatat.
Kalaupun mencatat, datanya tersebar di banyak tempat. Ada yang berada di aplikasi catatan, riwayat transfer, chat WhatsApp, atau hanya mengandalkan ingatan.
Karena itulah gue mulai merancang Dhuwit sebagai aplikasi keuangan pribadi dan budgeting bulanan.
Tujuannya bukan untuk membuat sistem keuangan yang rumit.
Gue ingin membuat sebuah aplikasi yang membantu pengguna memahami kondisi keuangannya sendiri.
Melalui Dhuwit, pengguna bisa mencatat pemasukan dan pengeluaran, mengatur anggaran bulanan, melihat saldo dompet, mencatat aset dan investasi, mengelola utang-piutang, sampai membuat target keuangan.
Semua data tersebut kemudian dirangkum agar pengguna bisa melihat gambaran yang lebih jelas mengenai uangnya.
Bukan hanya mengetahui berapa uang yang tersisa, tetapi juga memahami ke mana uang tersebut pergi.
Membangun Aplikasi Tanpa Latar Belakang Teknik Informatika
Bagian yang menurut gue paling menarik bukan hanya tentang aplikasinya.
Namun, tentang siapa yang membuatnya.
Gue bukan lulusan Teknik Informatika.
Gue tidak tumbuh dengan kemampuan programming yang luar biasa.
Latar belakang pendidikan gue adalah Komunikasi dan Penyiaran Islam. Sebuah jurusan yang mungkin bagi sebagian orang terasa sangat jauh dari dunia pengembangan aplikasi.
Namun, teknologi membuat batas itu menjadi lebih cair.
Gue tetap harus belajar.
Gue tetap harus memahami alur aplikasi.
Gue tetap harus membaca kesalahan, mencoba solusi, mengulang proses, dan menerima kenyataan bahwa apa yang gue buat tidak selalu langsung berhasil.
Bedanya, sekarang gue tidak belajar sendirian.
Ada AI yang bisa membantu menjelaskan kode dengan bahasa yang lebih sederhana. Ada AI yang bisa membantu mencari kesalahan. Ada AI yang bisa membantu mengubah ide mentah menjadi struktur aplikasi yang lebih jelas.
Bukan berarti AI mengerjakan semuanya.
Namun, AI membuat proses belajar terasa lebih mungkin untuk dijalani.
Dulu, sebuah ide aplikasi mungkin hanya akan berhenti di kepala gue.
Sekarang, ide tersebut bisa berubah menjadi prototype, kemudian berkembang menjadi produk yang dapat digunakan orang lain.
Bagi gue, itu gila.
Bukan karena aplikasinya paling canggih.
Bukan juga karena teknologinya belum pernah dibuat siapa pun.
Namun, karena sesuatu yang sebelumnya terasa terlalu jauh, sekarang bisa gue sentuh dan kerjakan sendiri.
Dhuwit Bukan Sekadar Aplikasi Keuangan
Gue sadar bahwa Dhuwit mungkin belum menjadi aplikasi keuangan paling lengkap di dunia.
Masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki.
Masih ada fitur yang ingin dikembangkan.
Masih ada bagian dari tampilan dan pengalaman pengguna yang perlu terus disempurnakan.
Namun, Dhuwit punya arti yang cukup penting buat gue.
Aplikasi ini menjadi bukti bahwa belajar sesuatu yang baru tidak selalu harus menunggu kita merasa siap.
Kadang kita baru merasa siap setelah mulai mengerjakannya.
Dhuwit juga menjadi penanda perubahan cara gue melihat diri sendiri.
Sebelumnya, gue lebih sering melihat diri gue sebagai seseorang yang menggunakan teknologi.
Sekarang, perlahan gue mulai belajar menjadi seseorang yang menciptakan sesuatu menggunakan teknologi.
Mungkin hasilnya belum sempurna.
Namun, setidaknya sekarang sudah ada sesuatu yang nyata.
Ada produk yang bisa dibuka.
Ada fitur yang bisa digunakan.
Ada masalah yang coba diselesaikan.
Dan ada perjalanan panjang yang sebelumnya hanya berupa ide.
Teknologi Semakin Gila, Manusianya Jangan Berhenti Belajar
Perkembangan AI memang terasa sangat cepat.
Hari ini kita baru memahami satu teknologi, beberapa minggu kemudian sudah muncul teknologi baru yang menawarkan kemampuan lebih besar.
Ada rasa kagum.
Ada rasa penasaran.
Namun, jujur saja, terkadang juga ada rasa takut tertinggal.
Apakah pekerjaan manusia akan digantikan?
Apakah semua orang harus bisa menggunakan AI?
Apakah kemampuan yang kita miliki sekarang masih akan dibutuhkan beberapa tahun lagi?
Gue belum punya jawaban pasti.
Namun, gue percaya satu hal: kita tidak harus menguasai semuanya.
Kita hanya perlu terus belajar dan memahami bagaimana teknologi bisa membantu menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita.
Tidak semua orang harus membuat aplikasi.
Tidak semua orang harus menjadi programmer.
Tidak semua orang harus mengikuti setiap tren teknologi.
Namun, menolak belajar hanya karena merasa teknologi terlalu rumit juga bukan pilihan yang baik.
Karena pada akhirnya, AI mungkin tidak langsung menggantikan manusia.
Namun, manusia yang mau belajar menggunakan AI bisa bergerak lebih cepat dibandingkan manusia yang memilih mengabaikannya.
Tetap saja, bergerak cepat bukan satu-satunya tujuan.
Kita juga harus tahu ke mana arah yang ingin dituju.
Ini Baru Permulaan
Dua bulan belajar AI membawa gue sampai ke titik ini.
Dari yang awalnya hanya menggunakan AI untuk bertanya, sekarang gue mulai menggunakannya untuk membantu membangun aplikasi.
Dari yang awalnya hanya menyimpan ide di kepala, sekarang gue mulai berusaha mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa dipakai.
Dhuwit mungkin menjadi salah satu aplikasi pertama yang berhasil gue selesaikan.
Namun, gue rasa ini bukan yang terakhir.
Masih ada banyak ide aneh yang ingin gue coba.
Masih ada banyak masalah sederhana yang mungkin bisa diselesaikan melalui aplikasi.
Dan tentu saja, masih ada banyak kegagalan yang mungkin akan gue temui selama prosesnya.
Mulai sekarang, gue ingin membagikan lebih banyak cerita tentang proses tersebut di blog ini.
Tentang AI.
Tentang pengembangan aplikasi.
Tentang teknologi.
Tentang pekerjaan.
Tentang kegagalan.
Atau tentang opini-opini aneh yang tiba-tiba muncul dan terlalu berisik jika hanya disimpan di kepala.
Mungkin kalian akan menyukai beberapa tulisan gue.
Mungkin ada yang terasa bermanfaat.
Mungkin juga ada yang tidak kalian setujui sama sekali.
Tidak masalah.
Karena seperti teknologi, pemikiran juga akan terus berkembang jika diberi ruang untuk diuji.
Jadi, selamat datang kembali di blog ini.
Selamat datang di 2026.
Dan selamat datang di perjalanan baru gue bersama AI, teknologi, dan berbagai ide aneh yang entah akan berubah menjadi apa.
Kita lihat saja nanti.
Oh ya, kalau kalian diberi kesempatan membuat sebuah aplikasi menggunakan AI, masalah apa yang paling ingin kalian selesaikan?
— Ant