Featured Post

Dua Bulan Belajar AI, Sampai Akhirnya Gue Membuat Aplikasi Dhuwit

Selamat datang kembali di blog ini pada tahun 2026. Gila, lama banget gue nggak nulis. Tulisan terakhir gue terbit pada Desember 2025. Setel...

Dua Bulan Belajar AI, Sampai Akhirnya Gue Membuat Aplikasi Dhuwit

Dua Bulan Belajar AI, Sampai Akhirnya Gue Membuat Aplikasi Dhuwit

Selamat datang kembali di blog ini pada tahun 2026.

Gila, lama banget gue nggak nulis.

Tulisan terakhir gue terbit pada Desember 2025. Setelah itu, blog ini kembali sunyi. Tidak ada tulisan baru, tidak ada opini aneh, dan tidak ada keresahan yang sengaja gue lempar ke internet.

Padahal, kepala gue tetap berisik.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin gue tulis. Tentang pekerjaan, teknologi, kehidupan, kebiasaan manusia, sampai pemikiran-pemikiran random yang terkadang muncul pada waktu yang tidak tepat.

Entah kenapa, semuanya hanya berhenti sebagai catatan kecil. Ada yang tersimpan di aplikasi catatan, ada yang masuk ke draf, dan sebagian besar berakhir hilang karena gue terlalu lama menunda.

Jadi, anggap saja tulisan ini sebagai pintu masuk baru.

Mulai sekarang, gue ingin kembali lebih sering menulis di sini. Mungkin tentang pengalaman pribadi, insight yang baru gue pelajari, teknologi, aplikasi yang sedang gue bangun, atau opini-opini aneh yang belum tentu semua orang setuju.

Mungkin beberapa tulisan gue nanti bisa bermanfaat.

Mungkin juga hanya membuat kalian berpikir, “Ini orang sebenarnya sedang ngomongin apa?”

Tidak masalah.

Karena sejak awal, blog ini memang bukan tempat untuk selalu menemukan jawaban. Kadang, kita hanya membutuhkan tempat untuk meletakkan pertanyaan.

Dan tulisan pertama gue pada 2026 ini akan dimulai dari sesuatu yang selama dua bulan terakhir benar-benar mengubah cara gue melihat teknologi:

Artificial Intelligence.

Dua Bulan Belajar AI dan Menyadari Teknologi Sudah Sejauh Ini

Awalnya, gue melihat AI seperti kebanyakan orang melihatnya.

Sebuah tempat untuk bertanya.

Bisa membantu mencari ide, merapikan tulisan, membuat caption, menerjemahkan kalimat, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan random yang tiba-tiba muncul di kepala.

Sederhana.

Tinggal ketik pertanyaan, tunggu beberapa detik, kemudian jawabannya muncul.

Namun, semakin lama gue menggunakannya, semakin gue sadar bahwa AI bukan sekadar mesin pencari dengan gaya bicara yang lebih manusiawi.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar di baliknya.

Selama kurang lebih dua bulan, gue mencoba belajar AI dengan lebih serius. Bukan hanya belajar bagaimana memberikan pertanyaan, tetapi juga bagaimana menyusun instruksi, membangun alur kerja, merancang fitur, membaca kesalahan, sampai mengembangkan sebuah ide menjadi produk yang benar-benar bisa digunakan.

Gue mulai belajar tentang prompt, logika aplikasi, struktur database, UI/UX, debugging, workflow, automation, sampai bagaimana menghubungkan beberapa layanan agar bisa bekerja sebagai satu sistem.

Apakah setelah dua bulan gue langsung menjadi ahli AI?

Tentu tidak.

Bahkan mungkin masih banyak hal mendasar yang belum gue pahami.

Namun, dua bulan itu cukup untuk membuat gue sadar bahwa batas antara “gue punya ide” dan “gue berhasil membuat sesuatu” sekarang semakin tipis.

Dulu, ketika punya ide aplikasi, pikiran pertama gue adalah:

“Siapa yang bisa membuat ini?”

Sekarang pertanyaannya berubah menjadi:

“Gue bisa mulai membuat versi pertamanya dari mana?”

Perubahan pertanyaan sederhana itu ternyata mengubah banyak hal.

AI Bukan Mesin Sulap

Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul ketika orang mulai menggunakan AI.

Kita menganggap AI bisa menyelesaikan semuanya hanya dengan satu perintah.

Ketik satu kalimat, lalu aplikasi langsung selesai.

Ketik satu perintah, kemudian bisnis langsung berjalan.

Ketik satu pertanyaan, lalu seluruh masalah hidup mendapat jawaban.

Sayangnya, tidak sesederhana itu.

AI memang bisa membantu menulis kode, memberikan ide fitur, menyusun struktur data, atau mencari penyebab sebuah kesalahan. Namun, AI tidak selalu memahami apa yang sebenarnya kita inginkan.

Kadang jawabannya terlalu umum.

Kadang aplikasinya terlihat berjalan, tetapi ternyata menyimpan banyak masalah.

Kadang satu fitur berhasil diperbaiki, tetapi fitur lain justru ikut rusak.

Kadang juga AI dengan sangat percaya diri memberikan jawaban yang ternyata salah.

Di situlah gue mulai memahami satu hal:

Menggunakan AI bukan berarti berhenti berpikir. Justru kita harus berpikir lebih jelas.

Kita tetap harus mengetahui masalah apa yang ingin diselesaikan, siapa yang akan menggunakan produknya, bagaimana alurnya, data apa yang dibutuhkan, dan apa yang akan terjadi ketika sistem mengalami kesalahan.

AI bisa membantu mempercepat pekerjaan.

Namun, keputusan akhirnya tetap berada di tangan manusia.

AI bisa membuat kode.

Tetapi manusia yang harus menentukan apakah kode tersebut benar-benar berguna.

AI bisa memberikan seratus ide.

Tetapi manusia yang harus memilih satu ide untuk dikerjakan sampai selesai.

Dari Catatan Keuangan Sampai Menjadi Dhuwit

Dari proses belajar AI itulah akhirnya lahir sebuah aplikasi bernama Dhuwit.

Nama yang sangat sederhana.

Dhuwit berarti uang.

Namun, seperti uang yang selalu punya cerita, proses pembuatan aplikasi ini juga cukup panjang.

Ide awalnya muncul dari masalah yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: mengatur keuangan pribadi.

Gue sering berpikir bahwa banyak orang sebenarnya mendapatkan penghasilan, tetapi tidak benar-benar mengetahui ke mana uangnya pergi.

Gaji masuk.

Tagihan dibayar.

Makan, transportasi, belanja, cicilan, dan kebutuhan lainnya terus berjalan.

Kemudian, menjelang akhir bulan, kita melihat saldo dan mulai bertanya:

“Uangnya habis buat apa saja?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya sering tidak jelas.

Bukan karena kita tidak bisa menghitung.

Masalahnya, kita jarang mencatat.

Kalaupun mencatat, datanya tersebar di banyak tempat. Ada yang berada di aplikasi catatan, riwayat transfer, chat WhatsApp, atau hanya mengandalkan ingatan.

Karena itulah gue mulai merancang Dhuwit sebagai aplikasi keuangan pribadi dan budgeting bulanan.

Tujuannya bukan untuk membuat sistem keuangan yang rumit.

Gue ingin membuat sebuah aplikasi yang membantu pengguna memahami kondisi keuangannya sendiri.

Melalui Dhuwit, pengguna bisa mencatat pemasukan dan pengeluaran, mengatur anggaran bulanan, melihat saldo dompet, mencatat aset dan investasi, mengelola utang-piutang, sampai membuat target keuangan.

Semua data tersebut kemudian dirangkum agar pengguna bisa melihat gambaran yang lebih jelas mengenai uangnya.

Bukan hanya mengetahui berapa uang yang tersisa, tetapi juga memahami ke mana uang tersebut pergi.

Membangun Aplikasi Tanpa Latar Belakang Teknik Informatika

Bagian yang menurut gue paling menarik bukan hanya tentang aplikasinya.

Namun, tentang siapa yang membuatnya.

Gue bukan lulusan Teknik Informatika.

Gue tidak tumbuh dengan kemampuan programming yang luar biasa.

Latar belakang pendidikan gue adalah Komunikasi dan Penyiaran Islam. Sebuah jurusan yang mungkin bagi sebagian orang terasa sangat jauh dari dunia pengembangan aplikasi.

Namun, teknologi membuat batas itu menjadi lebih cair.

Gue tetap harus belajar.

Gue tetap harus memahami alur aplikasi.

Gue tetap harus membaca kesalahan, mencoba solusi, mengulang proses, dan menerima kenyataan bahwa apa yang gue buat tidak selalu langsung berhasil.

Bedanya, sekarang gue tidak belajar sendirian.

Ada AI yang bisa membantu menjelaskan kode dengan bahasa yang lebih sederhana. Ada AI yang bisa membantu mencari kesalahan. Ada AI yang bisa membantu mengubah ide mentah menjadi struktur aplikasi yang lebih jelas.

Bukan berarti AI mengerjakan semuanya.

Namun, AI membuat proses belajar terasa lebih mungkin untuk dijalani.

Dulu, sebuah ide aplikasi mungkin hanya akan berhenti di kepala gue.

Sekarang, ide tersebut bisa berubah menjadi prototype, kemudian berkembang menjadi produk yang dapat digunakan orang lain.

Bagi gue, itu gila.

Bukan karena aplikasinya paling canggih.

Bukan juga karena teknologinya belum pernah dibuat siapa pun.

Namun, karena sesuatu yang sebelumnya terasa terlalu jauh, sekarang bisa gue sentuh dan kerjakan sendiri.

Dhuwit Bukan Sekadar Aplikasi Keuangan

Gue sadar bahwa Dhuwit mungkin belum menjadi aplikasi keuangan paling lengkap di dunia.

Masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki.

Masih ada fitur yang ingin dikembangkan.

Masih ada bagian dari tampilan dan pengalaman pengguna yang perlu terus disempurnakan.

Namun, Dhuwit punya arti yang cukup penting buat gue.

Aplikasi ini menjadi bukti bahwa belajar sesuatu yang baru tidak selalu harus menunggu kita merasa siap.

Kadang kita baru merasa siap setelah mulai mengerjakannya.

Dhuwit juga menjadi penanda perubahan cara gue melihat diri sendiri.

Sebelumnya, gue lebih sering melihat diri gue sebagai seseorang yang menggunakan teknologi.

Sekarang, perlahan gue mulai belajar menjadi seseorang yang menciptakan sesuatu menggunakan teknologi.

Mungkin hasilnya belum sempurna.

Namun, setidaknya sekarang sudah ada sesuatu yang nyata.

Ada produk yang bisa dibuka.

Ada fitur yang bisa digunakan.

Ada masalah yang coba diselesaikan.

Dan ada perjalanan panjang yang sebelumnya hanya berupa ide.

Teknologi Semakin Gila, Manusianya Jangan Berhenti Belajar

Perkembangan AI memang terasa sangat cepat.

Hari ini kita baru memahami satu teknologi, beberapa minggu kemudian sudah muncul teknologi baru yang menawarkan kemampuan lebih besar.

Ada rasa kagum.

Ada rasa penasaran.

Namun, jujur saja, terkadang juga ada rasa takut tertinggal.

Apakah pekerjaan manusia akan digantikan?

Apakah semua orang harus bisa menggunakan AI?

Apakah kemampuan yang kita miliki sekarang masih akan dibutuhkan beberapa tahun lagi?

Gue belum punya jawaban pasti.

Namun, gue percaya satu hal: kita tidak harus menguasai semuanya.

Kita hanya perlu terus belajar dan memahami bagaimana teknologi bisa membantu menyelesaikan masalah yang ada di sekitar kita.

Tidak semua orang harus membuat aplikasi.

Tidak semua orang harus menjadi programmer.

Tidak semua orang harus mengikuti setiap tren teknologi.

Namun, menolak belajar hanya karena merasa teknologi terlalu rumit juga bukan pilihan yang baik.

Karena pada akhirnya, AI mungkin tidak langsung menggantikan manusia.

Namun, manusia yang mau belajar menggunakan AI bisa bergerak lebih cepat dibandingkan manusia yang memilih mengabaikannya.

Tetap saja, bergerak cepat bukan satu-satunya tujuan.

Kita juga harus tahu ke mana arah yang ingin dituju.

Ini Baru Permulaan

Dua bulan belajar AI membawa gue sampai ke titik ini.

Dari yang awalnya hanya menggunakan AI untuk bertanya, sekarang gue mulai menggunakannya untuk membantu membangun aplikasi.

Dari yang awalnya hanya menyimpan ide di kepala, sekarang gue mulai berusaha mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa dipakai.

Dhuwit mungkin menjadi salah satu aplikasi pertama yang berhasil gue selesaikan.

Namun, gue rasa ini bukan yang terakhir.

Masih ada banyak ide aneh yang ingin gue coba.

Masih ada banyak masalah sederhana yang mungkin bisa diselesaikan melalui aplikasi.

Dan tentu saja, masih ada banyak kegagalan yang mungkin akan gue temui selama prosesnya.

Mulai sekarang, gue ingin membagikan lebih banyak cerita tentang proses tersebut di blog ini.

Tentang AI.

Tentang pengembangan aplikasi.

Tentang teknologi.

Tentang pekerjaan.

Tentang kegagalan.

Atau tentang opini-opini aneh yang tiba-tiba muncul dan terlalu berisik jika hanya disimpan di kepala.

Mungkin kalian akan menyukai beberapa tulisan gue.

Mungkin ada yang terasa bermanfaat.

Mungkin juga ada yang tidak kalian setujui sama sekali.

Tidak masalah.

Karena seperti teknologi, pemikiran juga akan terus berkembang jika diberi ruang untuk diuji.

Jadi, selamat datang kembali di blog ini.

Selamat datang di 2026.

Dan selamat datang di perjalanan baru gue bersama AI, teknologi, dan berbagai ide aneh yang entah akan berubah menjadi apa.

Kita lihat saja nanti.

Oh ya, kalau kalian diberi kesempatan membuat sebuah aplikasi menggunakan AI, masalah apa yang paling ingin kalian selesaikan?

— Ant

Hening yang Punya Nama

Hening yang Punya Nama

Ada rindu yang tidak datang dengan suara. Ia tidak mengetuk, tidak meminta dibukakan pintu, tidak pula memaksa untuk diakui. Ia hanya hadir seperti udara setelah hujan; dingin, dan pelan-pelan meresap. Rindu semacam ini tidak suka ramai, karena ia tahu; beberapa hal yang pernah dekat, justru menjadi paling mudah terluka ketika terlalu sering disebut.

Aku rindu, tapi aku belajar menyamarkannya.

Aku rindu sapaan yang dulu terasa ringan, seolah dunia tidak pernah terlalu berat selama ada satu kalimat sederhana yang menyapaku. Aku rindu senyuman yang membuat hari yang biasa terasa punya warna lain. Aku rindu pertanyaan-pertanyaan kecil; yang mungkin di mata orang lain hanya kebiasaan, tetapi bagiku dulu adalah bentuk perhatian yang paling jujur. Pertanyaan yang tidak menuntut jawaban sempurna, hanya ingin memastikan: “kamu ada, kan?”

Lalu hari-hari berjalan, dan yang dulu sering muncul, mulai jarang. Yang jarang mulai hilang. Yang hilang mulai menjadi kenangan yang terlalu rapi, sampai aku bingung: apakah ini memang harus berakhir begini, atau aku saja yang terlambat menyadari bahwa sesuatu sedang bergeser.

Rindu yang paling tajam bukanlah rindu pada hal-hal besar. Bukan pada rencana yang pernah dibuat, bukan pada janji yang pernah diucap, bukan pada momen yang bisa dipamerkan di foto. Rindu yang paling tajam justru rindu pada hal-hal yang tidak tercatat: cara menyebut namaku, cara menatap ketika aku berbicara, cara diam yang tidak membuatku takut. Hal-hal kecil yang dulu tidak kupikirkan, karena kupikir akan selalu ada.

Sekarang, justru hal-hal kecil itu yang membuat malam terasa lebih panjang.

Ada masa ketika aku percaya semuanya akan baik-baik saja, hanya karena kita pernah tertawa pada hal yang sama. Aku percaya kedekatan itu cukup kuat menahan apa pun, cukup tebal untuk menutup celah-celah yang pelan-pelan muncul. Aku percaya waktu akan menyelesaikan semuanya, tanpa aku perlu benar-benar belajar cara menjaga.

Ternyata, beberapa hal tidak selesai oleh waktu. Beberapa hal justru memburuk karena dibiarkan.

Aku tidak menulis ini untuk memanggilmu kembali. Aku paham, tidak semua rindu harus punya jalan pulang. Ada rindu yang memang tugasnya bukan membawa seseorang kembali, melainkan membawa kita pulang ke diri sendiri; ke titik di mana kita akhirnya berani jujur, akhirnya berani melihat, akhirnya berani mengaku.

Dan jujur saja, aku pernah menjadi versi diriku yang sulit untuk dijaga.

Bukan karena aku tidak punya niat baik, tetapi karena niat baik saja tidak selalu cukup. Ada kata-kata yang seharusnya lembut, tapi keluar dengan cara yang keliru. Ada sikap yang seharusnya menenangkan, tetapi justru membuat jarak. Ada momen ketika aku lebih sibuk merasa benar, dibanding mencoba mengerti. Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin terlihat sepele, tapi jika terjadi berulang, berubah menjadi sesuatu yang berat.

Aku baru paham belakangan; kadang yang membuat seseorang menjauh bukan satu kesalahan besar, melainkan kumpulan hal kecil yang tidak pernah diberi ruang untuk diperbaiki. Seperti retak di kaca yang mula-mula tipis, nyaris tak terlihat lalu suatu hari, ketika kita menoleh, ternyata ia sudah membelah cukup jauh.

Dan perpisahan itu, dari luar, mungkin tampak seperti keputusan yang mendadak. Tapi aku tahu, tidak ada yang benar-benar mendadak dalam sesuatu yang pernah diusahakan. Selalu ada bagian-bagian yang lebih dulu lelah. Selalu ada diam yang lebih dulu panjang. Selalu ada hal-hal yang tidak diucapkan, lalu menumpuk menjadi jarak.

Aku sering memutar ulang banyak hal dalam kepalaku. Bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan untuk mencari letak di mana aku seharusnya berhenti; seharusnya menahan, seharusnya bertanya, seharusnya memperbaiki. Aku mengingat momen ketika suasana mulai berubah, tetapi aku memilih menganggapnya hanya fase. Aku mengingat tanda-tanda kecil yang mungkin sempat muncul, tetapi aku terlalu yakin semuanya akan tetap sama.

Ternyata, keyakinan tanpa perawatan hanya akan menjadi kebiasaan menunda.

Rindu ini, anehnya, membuatku belajar hal yang tidak pernah ku pelajari saat semuanya masih ada: rasa kehilangan tidak selalu datang sebagai luka besar. Kadang ia datang sebagai kosong yang rapi, seperti ruang yang tetap tertata tetapi penghuninya sudah lama pergi. Kita masih bisa tertawa, masih bisa bekerja, masih bisa terlihat kuat, tetapi ada satu sudut yang selalu terasa kurang, dan tidak ada yang bisa mengisinya selain hal yang dulu pernah mengisi.

Aku juga belajar bahwa kedewasaan itu bukan sekadar bisa menerima, tetapi juga bisa mengakui. Mengakui bahwa aku pernah tidak cukup peka. Mengakui bahwa aku pernah tidak cukup lembut. Mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang seharusnya dibenahi, bukan dibela mati-matian.

Dan anehnya, pengakuan itu tidak membuatku merasa lebih rendah. Ia membuatku merasa manusia.

Karena sesungguhnya, rindu yang tersirat bukan rindu yang lemah. Rindu yang tersirat adalah rindu yang tahu batas. Ia tahu kapan harus diam agar tidak menjadi beban. Ia tahu kapan harus cukup menjadi doa, cukup menjadi pelajaran, cukup menjadi pengingat.

Aku rindu sapaanmu, tapi aku tidak ingin mengganggu tenangmu.

Aku rindu senyummu, tapi aku tidak ingin memaksakan luka lama terbuka lagi.

Aku rindu pertanyaan-pertanyaanmu, tapi aku tidak ingin membuatmu kembali pada sesuatu yang mungkin sudah kamu lepaskan.

Jadi aku memilih tempat yang paling aman untuk menaruh rindu: tulisan.

Tulisan ini mungkin tidak akan mengubah apa pun. Dan mungkin memang tidak perlu. Kadang yang paling perlu bukan perubahan keadaan, melainkan perubahan cara kita memandang diri sendiri. Supaya ke depan, ketika ada hal baik datang lagi, aku tidak mengulang cara yang sama. Supaya aku bisa lebih tahu kapan harus merendah, kapan harus mendengar, kapan harus berhenti membiarkan hal-hal kecil menjadi besar.

Jika suatu hari kamu melihatku dari jauh, aku ingin kamu tahu: jarak ini tidak membuatku membencimu. Jarak ini justru membuatku lebih menghargai apa yang pernah ada. Dan jika ada yang tersisa dari semua itu, biarlah ia tinggal sebagai kenangan yang tidak pahit; meski tidak lagi lengkap.

Karena meski aku rindu, aku juga belajar menerima.

Aku menutup tulisan ini dengan satu kalimat yang sederhana, tapi berat; karena seharusnya lebih sering kuucapkan ketika masih ada kesempatan:

Maaf.

Selamat Bertumbuh, Selamat Bermimpi

Selamat Bertumbuh, Selamat Bermimpi

Malam ini sunyi. Hanya detak jam yang setia menemani, perlahan merayap di antara keheningan. Di balik jendela, bulan menggantung malu-malu, cahayanya jatuh lembut ke bumi, seolah ikut merayakan hari istimewamu. Dan di sini, di antara detik yang berjalan pelan, aku mencoba merangkai kata—bukan sekadar ucapan, tapi doa yang tumbuh dari kedalaman hati.

Hari ini, tanggal yang tak biasa. Ada jejak kenangan, ada impian yang terus kau anyam, ada perjalanan panjang yang sudah kau tapaki. Setiap langkahmu, entah kau sadari atau tidak, membawa terang ke dalam hidup banyak orang. Kau adalah cerita yang indah, bait-bait yang tak pernah bosan untuk dibaca.

Selamat Ulang Tahun.
Usiamu bertambah, begitu juga cahaya dalam dirimu. Kau mungkin tak menyadari betapa luar biasanya dirimu—seorang pejuang, yang tak kenal lelah menghadapi badai. Kau yang berani berdiri meski lelah, yang tetap tersenyum meski dunia tak selalu ramah. Hari ini, aku ingin kau tahu bahwa perjalanan ini tak pernah kau lalui sendirian. Ada doa yang terus mengiringi, ada harapan yang selalu menyala untukmu.

Mungkin, hari ini tak ada perayaan mewah. Tak ada pesta besar, tak ada kue dengan lilin yang berjejer. Tapi ada sesuatu yang lebih berharga—keberanianmu, keteguhanmu, dan harapan yang masih kau genggam erat.

Di usiamu yang baru ini, aku hanya ingin melihatmu tetap bersinar. Jangan biarkan dunia meredupkan cahayamu. Jangan takut melangkah, meski jalan di depan kadang berkabut. Karena sejauh apa pun kau berjalan, selalu ada hati yang menyayangimu, selalu ada doa yang mendekapmu erat.

Jadi, teruslah melangkah. Bermimpi. Tertawa. Menangis jika perlu, tapi jangan berhenti.

Dan sekali lagi, selamat ulang tahun. Semoga bahagia selalu memilihmu, semoga langkahmu semakin ringan, dan semoga dalam setiap hela napasmu, kau selalu merasa dicintai—oleh semesta, oleh orang-orang di sekitarmu, dan tak lupa... oleh diriku.
Realita Dibalik Nama IAN (Institut Attaqwa Bekasi)

Realita Dibalik Nama IAN (Institut Attaqwa Bekasi)

Thoughts - Perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat di mana mahasiswa bisa berkembang, baik dalam hal akademik maupun pribadi. Namun, bagaimana jika institusi yang seharusnya memberikan pelayanan terbaik justru mempermainkan para mahasiswanya? Fenomena ini sayangnya terjadi di Institut Attaqwa KH. Noer Ali, Bekasi, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Attaqwa.

Perubahan nama dari STAI Attaqwa menjadi Institut Attaqwa KH. Noer Ali tentu diharapkan membawa perubahan positif, terutama dalam hal manajemen dan pelayanan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa perubahan tersebut lebih bersifat kosmetik, tanpa ada perbaikan nyata yang dirasakan oleh mahasiswa.

Contoh paling sederhana adalah pada pembuatan kartu mahasiswa. Bayangkan, sebuah institusi yang mengklaim dirinya sebagai perguruan tinggi, namun hanya mampu memberikan kartu mahasiswa berupa selembar kertas HVS yang dilaminasi. Bukankah ini sebuah penghinaan terhadap mahasiswa? Identitas mahasiswa seharusnya dijaga dan dihargai, bukan diperlakukan dengan cara yang begitu asal-asalan.


Selain itu, pengumpulan data mahasiswa yang berulang kali juga menunjukkan ketidakprofesionalan dalam manajemen data. Mahasiswa dipaksa mengisi atau mengumpulkan data yang sama berulang. Ini bukan hanya membuang waktu, tetapi juga menunjukkan betapa tidak efektifnya sistem yang diterapkan oleh kampus ini.

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang seharusnya menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat, justru diwarnai dengan ketidakjelasan. Informasi mengenai lokasi dan detail kegiatan sering kali berubah-ubah tanpa ada komunikasi yang baik kepada mahasiswa. Ketidakpastian ini tentu saja menambah beban mental bagi mahasiswa, yang seharusnya bisa fokus pada persiapan dan pelaksanaan KKN.

Baca Tentang KKN dan PPLK:

Puncaknya, ketika tiba saatnya wisuda, mahasiswa dihadapkan dengan seragam wisuda yang kualitasnya jauh dari kata layak. Sablon yang lepas, medali yang tidak presisi, hingga sisa benang yang masih menumpuk menunjukkan bahwa seragam tersebut diproduksi tanpa proses Quality Control (QC) yang memadai. Bagaimana kampus ini bisa bangga mempromosikan dirinya jika hal mendasar seperti ini saja diabaikan?


Semua ini menggambarkan betapa buruknya manajemen di Institut Attaqwa KH. Noer Ali.

Transformasi dari STAI menjadi Institut seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki segala aspek pelayanan dan manajemen, bukan sekadar perubahan nama tanpa makna. Jika situasi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin reputasi kampus ini akan terus menurun, dan minat calon mahasiswa untuk bergabung pun akan semakin berkurang.

Dalam dunia pendidikan tinggi, nama besar saja tidak cukup. Yang terpenting adalah kualitas dan integritas dalam memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa. Sayangnya, hal ini tampaknya belum menjadi prioritas di Institut Attaqwa KH. Noer Ali. Sudah saatnya pihak kampus membuka mata dan telinga, serta mulai memperbaiki diri, demi masa depan yang lebih baik bagi mahasiswa dan institusi itu sendiri.


Oh ya... Lalu bagaimana dengan opini kalian? Buat kalian para mahasiswa, dimanapun kuliahnya, apapun jurusannya, Tetap semangat ya! 😉
Apakah Pihak Kampus Tidak Memiliki Printer?

Apakah Pihak Kampus Tidak Memiliki Printer?

Dalam dunia pendidikan tinggi, administrasi yang efisien dan transparan merupakan kunci utama untuk menjaga kepercayaan mahasiswa dan orang tua. Namun, bagaimana jika sebuah kampus hingga saat ini belum mengeluarkan surat edaran terkait pembiayaan wisuda, sidang munaqosah, dan ijazah? Apakah ini menandakan ketidakmampuan dalam manajemen keuangan atau hanya sekadar masalah teknis seperti tidak adanya printer?

Masalah keterlambatan dalam pengeluaran surat edaran terkait pembiayaan bisa menjadi tanda-tanda adanya masalah yang lebih besar dalam manajemen kampus. Pertama, mari kita telaah kemungkinan ketidakmampuan manajemen keuangan. Keterlambatan semacam ini bisa jadi mencerminkan kekacauan dalam pengelolaan anggaran kampus. Tanpa perencanaan yang matang dan transparan, sulit bagi pihak kampus untuk menentukan besaran biaya yang wajar untuk berbagai kebutuhan administrasi. Keterbukaan mengenai biaya ini penting untuk menghindari kecurigaan adanya pungutan liar atau penyalahgunaan dana.

Sumber: Google

Selain itu, keterlambatan dalam penyusunan surat edaran bisa berdampak negatif pada mahasiswa. Wisuda, sidang munaqosah, dan penerbitan ijazah adalah momen penting dalam perjalanan akademik mahasiswa. Ketidakjelasan mengenai biaya dapat menambah beban stres yang sudah ada pada mahasiswa tingkat akhir. Mereka harus merencanakan keuangan mereka dengan baik, terutama bagi mereka yang mungkin memiliki keterbatasan finansial.

Namun, apakah mungkin ini semua hanya masalah teknis seperti tidak adanya printer? Tentu saja, alasan ini terasa kurang masuk akal. Di era digital saat ini, surat edaran bisa dengan mudah disebarluaskan melalui email atau platform online kampus. Jika masalahnya hanya sebatas printer, maka manajemen kampus seharusnya mampu mencari solusi cepat, seperti menggunakan jasa percetakan luar atau bahkan mengirimkan file digital yang bisa dicetak sendiri oleh mahasiswa.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin saja ada kombinasi dari kedua masalah tersebut. Kurangnya manajemen keuangan yang baik dan lemahnya sistem administrasi bisa berjalan beriringan, menyebabkan keterlambatan yang tidak perlu. Namun, tanpa adanya informasi yang transparan dari pihak kampus, sulit untuk menentukan akar masalahnya.

Dalam situasi ini, pihak kampus harus segera mengambil langkah untuk memperbaiki manajemen keuangan dan administrasi mereka. Transparansi harus menjadi prioritas utama. Mengkomunikasikan masalah dan solusi kepada mahasiswa akan membantu mengurangi kekhawatiran dan kecurigaan. Di sisi lain, mahasiswa juga harus aktif menyuarakan keluhan mereka melalui saluran yang tersedia, agar pihak kampus menyadari betapa pentingnya masalah ini untuk segera diselesaikan.

Keterlambatan dalam pengeluaran surat edaran pembiayaan wisuda, sidang munaqosah, dan ijazah bukanlah masalah sepele. Ini mencerminkan isu yang lebih mendasar dalam manajemen kampus. Pihak kampus perlu segera bertindak untuk memastikan bahwa sistem administrasi dan keuangan mereka berjalan dengan baik, demi menjaga kepercayaan dan kenyamanan mahasiswa.
Ketidakmasukakalan yang Dimasukin Akal Sehat

Ketidakmasukakalan yang Dimasukin Akal Sehat

Thoughts - Biaya pendidikan di STAIA menjadi sorotan hangat di kalangan mahasiswa semester akhir. Biaya yang diwajibkan untuk sidang dan wisuda sebesar Rp7.300.000 terbilang tidak masuk akal jika dibandingkan dengan kampus lain yang memiliki fasilitas, sarana prasarana, dan biaya semester setara. Ironisnya, mahasiswa STAIA tidak diizinkan untuk bertanya lebih banyak mengenai rincian penggunaan anggaran tersebut kecuali setelah mereka melakukan pembayaran. Bahkan, hingga saat tulisan ini dimuat, masih banyak mahasiswa yang belum mengetahui lokasi wisuda mereka, meskipun sudah membayar lunas biaya yang diminta.

Kejanggalan ini bukanlah cerita baru di STAIA. Mahasiswa sudah mulai merasakan ketidaktransparanan sejak mengikuti program KKN dan PKL. Nota yang diberikan hanya mencantumkan biaya KKN dan PKL, tanpa rincian biaya yang jelas. Ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai alokasi dana tersebut.

"Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak." Kampus seolah menutup mata terhadap pentingnya transparansi keuangan, sementara mahasiswa dipaksa untuk menerima ketidakjelasan ini.

Foto: attaqwa.ac.id

STAIA seharusnya memberikan penjelasan yang rinci dan transparan mengenai setiap biaya yang dibebankan kepada mahasiswa. Transparansi adalah pilar utama dalam membangun kepercayaan antara institusi pendidikan dan mahasiswanya. Ketidakjelasan seperti ini hanya akan menimbulkan kecurigaan dan ketidakpuasan di kalangan mahasiswa.

Di era keterbukaan informasi ini, seharusnya tidak ada lagi ruang untuk praktik-praktik yang menimbulkan tanda tanya besar. Mahasiswa adalah tulang punggung masa depan bangsa, dan mereka berhak mendapatkan kejelasan serta keadilan dalam setiap aspek pendidikan mereka, termasuk dalam hal pembiayaan.

STAIA perlu segera berbenah diri dan memperbaiki sistem transparansi keuangan mereka. Mahasiswa tidak seharusnya diperlakukan seperti pembeli kucing dalam karung, yang membayar mahal untuk sesuatu yang tidak jelas. Sudah saatnya STAIA menjunjung tinggi nilai-nilai transparansi dan akuntabilitas demi terciptanya lingkungan pendidikan yang sehat dan berkeadilan.
Kisah di Antara Kata-Kata

Kisah di Antara Kata-Kata

Di tengah kebisuan malam yang sunyi, di antara getaran detak jam yang perlahan merayap, aku menemukan diriku terhanyut dalam serangkaian kata-kata yang terpahat dalam benakku. Kata-kata yang belum pernah terucap, namun terasa begitu nyata di dalam relung-relung hati ini. Hari ini adalah hari yang istimewa, sebuah tanggal yang dipenuhi dengan makna yang tak terhingga, karena pada hari ini, cahaya yang memancar dari kedalaman hati ini untukmu, tersinari oleh cahaya bulan yang mengambang di langit malam yang gelap.

Sebelumnya, ijinkanlah aku menyampaikan sebuah kisah di antara kata-kata, sebuah kisah yang terbentang di antara detik-detik yang terabaikan, di antara diam yang menggema, di antara getaran getir kehidupan yang dijalani. Kisah ini bukanlah tentang penghargaan yang bercahaya, bukan tentang pujian yang bergema, melainkan tentang keberanian yang tumbuh dari keheningan, tentang kekuatan yang muncul dari ketekunan, dan tentang cinta yang mekar di tengah-tengah kesunyian.



Hari ini, di hari ulang tahunmu yang ke 22, aku menyaksikan cahaya yang tak terbatas memancar dari setiap langkah yang kau ambil. Kau mungkin tidak menyadarinya, tetapi setiap langkah yang kau lalui, setiap tantangan yang kau hadapi, adalah sebuah lagu yang memainkan melodi kemegahan, keberanian, dan keteguhan hati. Saat ini, aku ingin menghaturkan sebuah doa, sebuah doa yang mengalir dari lubuk hatiku yang terdalam, agar cahaya itu selalu bersinar di dalam dirimu.

Terimalah ucapan ulang tahun ini, anggap saja ini sebagai sebuah bekal dalam menjelajahi samudera kehidupan. Kehadirannya bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah anugerah yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta untuk mengisi ruang kosong di dalam hatimu. Dalam setiap langkahmu, ingatlah bahwa di belakangmu terdapat sejuta doa yang mengiringi, sejuta harapan yang mendukung, dan sejuta cinta yang memeluk erat.

Mahasiswa yang berjuang menyelesaikan tugas akhirnya, betapa beratnya beban yang kau pikul, betapa kerasnya angin yang kau hadapi, namun janganlah kau lupakan bahwa di antara bayangan kesulitan, terdapat sinar harapan yang memandu langkahmu. Ingatlah, setiap kata yang terucap, setiap kalimat yang terpahat, adalah sebuah langkah menuju puncak kejayaan. Kau mungkin merasa sendiri di dalam perjalanan ini, tetapi ingatlah bahwa cinta selalu hadir di setiap penjuru, menuntunmu melewati badai dan memandumu menuju pelabuhan yang aman.

Dalam setiap detik yang berlalu, dalam setiap napas yang kau hembuskan, rasakanlah kehadiran itu yang selalu bersamamu. Kehidupan ini mungkin memainkan lagu-lagu yang tak terduga, namun janganlah biarkan dirimu terhanyut oleh gemuruhnya. Jadikanlah setiap tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh, setiap kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan, dan setiap mimpi sebagai pendorong untuk mewujudkan potensimu yang terpendam.

Di hari ulang tahunmu yang berharga ini, izinkan aku menggenggam erat tanganmu, mengajakmu berjalan melintasi lorong-lorong kegelapan, menuju cahaya yang bersinar terang di ujung sana. Jadikanlah setiap langkah sebagai sebuah perjalanan yang membingkai kisah hidupmu, dan setiap momen sebagai sebuah lukisan yang memperindah perjalananmu.

Selamat ulang tahun. 

اَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُورَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنَا وَوَسِّعْ أَرْزَقَنَا وَإِلَى الخَيْرِ قَرِّبْنَا وَعَنِ الشَّرِّ اَبْعِدْنَا وَاقْضِ حَوَائِجَنَا فِى الدِّيْنِ وَالدُّنْيَا وَالۤاخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيْرٌ

Semoga cahaya yang kau pancarkan tidak pernah padam, semoga langkahmu selalu tegar, dan semoga cintamu memeluk dunia dengan kehangatan yang tak terbatas. Aku bersyukur atas setiap detik yang kita jalani bersama, atas setiap tawa yang kita bagi, dan atas setiap impian yang kita rintis.

Dalam perjalanan ini, biarkanlah cinta menjadi pemandu, ketekunan menjadi kawan setia, dan keberanian menjadi senjata utama. Bersama, kita akan menapaki setiap lorong kegelapan, melewati setiap badai yang melanda, dan sampai pada akhirnya, kita akan bersama-sama menikmati sinar mentari yang bersinar terang di ufuk timur.

Selamat ulang tahun. Teruslah berjuang, teruslah bermimpi, dan teruslah percaya bahwa di setiap langkahmu, akan selalu ada orang-orang baik berada di sampingmu, menguatkan, mendukung, dan mencintaimu dengan segenap jiwa dan raga.



Tulisan yang berat untuk di sampaikan, semoga ringan untuk di nikmati.
Ant






Maaf hanya ucapan yang bisa di sampaikan 🙏
Persetan Hak Istimewa!

Persetan Hak Istimewa!

Is That Earned or Given?

Hak istimewa, sebagai bentuk pengakuan atau kebijakan tertentu, menjadi pusat perhatian masyarakat dalam konteks sosial dan keadilan. Hal yang ingin saya dijelajahi dalam thoughts kali ini adalah sejauh mana hak istimewa seharusnya diberikan sebagai hasil dari usaha dan prestasi pribadi, ataukah diberikan secara kolektif tanpa melibatkan faktor tersebut? Disini saya coba telaah lebih rinci mengenai dinamika kompleks di balik hak istimewa yang muncul dari pemberian.

Sebagian kalangan meyakini bahwa hak istimewa yang diberikan tanpa melibatkan usaha atau prestasi individu dapat menciptakan ketidaksetaraan sosial yang tidak sehat. Program-program afirmatif, misalnya, sering kali dianggap sebagai intervensi eksternal yang dapat merendahkan nilai usaha dan pencapaian pribadi. Kemudia muncul pertanyaan, apakah memberikan hak istimewa tanpa mempertimbangkan upaya personal merupakan bentuk keadilan yang sesungguhnya?.

Illustrasi: Dollar Gill/Unsplash

Di sisi lain, ada pandangan yang menyatakan bahwa pemberian hak istimewa dapat dianggap sebagai upaya untuk mengkompensasi ketidaksetaraan historis. Sejarah panjang ketidakadilan sosial menjadi dasar argumen bahwa langkah-langkah afirmatif, termasuk pemberian hak istimewa, perlu diambil untuk mengoreksi ketidaksetaraan yang telah terakumulasi. Pemahaman ini membuka pintu untuk pertimbangan apakah diperlukan tindakan afirmatif untuk mencapai kesetaraan yang seharusnya.

Namun, argumen tidak selalu hitam-putih. Beberapa berpendapat bahwa penilaian hak istimewa harus mempertimbangkan konteks dan sifat ketidaksetaraan yang hendak diatasi. Mungkin diperlukan pendekatan yang seimbang antara pemberian hak istimewa berbasis prestasi individu dan tindakan afirmatif yang bertujuan mengoreksi ketidaksetaraan historis.

Nah, perdebatan seputar hak istimewa yang diperoleh karena pemberian atau diakui sebagai hak inheren menciptakan dilema kompleks. Apakah hak-hak ini melambangkan langkah positif untuk mengatasi ketidaksetaraan, ataukah mereka memberikan pembenaran pada ketidakadilan? Mungkin saatnya kita merenung dan menilai kembali apakah hak istimewa seharusnya menjadi hasil dari upaya personal ataukah memang layak diberikan secara kolektif.

So, Persetan hak istimewa!
Kebenaraan Ciptaan Pembohong

Kebenaraan Ciptaan Pembohong

- Obat adalah sebuah kemustahilan -

Saya sempat berdebat untuk mengosongkan tulisan minggu ini. Judulnya saja sudah cukup untuk "mengacaukan pikiran" jika tidak ditanggapi dengan penolakan langsung (yaitu kesalahpahaman yang melemahkan).

Saya pertama kali mendengar frasa ini dari Heinz von Foerster, yang dianggap sebagai pencetus sibernetika orde dua - atau bisa juga disebut sibernetika dari sibernetika.

Yang paling menginspirasi dan memberdayakan saya dari Heinz adalah keharusan etisnya:  
"Act always so as to increase the number of choices" (Bertindaklah selalu untuk meningkatkan jumlah pilihan).

Kebenaran, seperti halnya "pemahaman", berfungsi untuk membatasi pilihan, atas nama kepastian. Namun saya setuju dengan Nancy Kline yang menulis “I am wary of certainty – I think it is a drug, and an impossibility” - oleh karena itu saya menyukai kesalahpahaman - atau lebih tepatnya kesalahpahaman dari kesalahpahaman.

Asal mula dari weekly-blog ini dan pilihan namanya adalah cerminan dari keharusan etis saya sendiri: "Bertindaklah selalu untuk meningkatkan kemungkinan". Salah satu perbedaan untuk kemungkinan adalah pilihan pilihan - jadi saya menduga Heinz akan menyetujuinya.

Biasanya ketika kita memohon kepada Kebenaran, apa yang kita lakukan adalah memohon kepada "realitas objektif" - kepastian tertinggi. Dan seperti yang ditunjukkan oleh Heinz:

"Objektivitas adalah khayalan subjek bahwa mengamati dapat dilakukan tanpa dirinya. Melibatkan objektivitas berarti meniadakan tanggung jawab - oleh karena itu, objektivitas sangat populer."

Jadi, cara lain untuk mengatakan frasa yang menjadi judul tulisan ini, mungkin adalah:

"Kebenaran adalah penemuan seseorang yang bertindak tidak bertanggung jawab"

Apa yang saya maksud dengan "bertindak tidak bertanggung jawab"? Maksud saya adalah bertindak seolah-olah kita tidak punya pilihan. Jika saya tidak punya pilihan, maka saya tidak bertanggung jawab - Kebenaran atau "pemahaman" atau "kenyataan" yang bertanggung jawab. Saya merasa lebih berdaya dan dapat diterapkan untuk bertindak seolah-olah saya selalu bertanggung jawab - saya selalu punya pilihan.

Saya tidak mengatakan bahwa kita selalu memiliki pilihan. Saya menawarkannya sebagai kesalahpahaman yang memberdayakan dan dapat diterapkan. Saya lebih suka bertanggung jawab atas tanggung jawab saya. Jika Kebenaran adalah bahwa selalu ada pilihan, maka saya tidak akan punya pilihan selain membuat pilihan - dengan kata lain saya tidak akan bertanggung jawab atas tanggung jawab saya.

Jadi ini bukanlah Kebenaran, sama seperti semua yang ada di dalam subtema ini (kalimat pembuka). Itu hanya bermain-main dengan kata-kata. Ini adalah kesalahpahaman. Ini adalah sebuah eksperimen untuk bertanggung jawab atas tanggung jawab saya. Ini adalah upaya saya untuk meningkatkan kemungkinan.

Jika itu memberdayakan dan dapat diterapkan, pertahankan, dan mainkanlah. Jika tidak memberdayakan atau dapat diterapkan, buanglah - toh itu bukan Kebenaran.
Malam Itu

Malam Itu

Malam itu angin mulai berhembus tepat setelah acara selesai. Rasanya ingin cepat pulang agar leluasa membuka ponsel pintar untuk menyapa dan membalas setiap kata darinya.

Malam itu rindu ini sangat menggebu-gebu, aku memotret mereka dengan penuh bahagia.

Jari ini tak sabar untuk menekan huruf-huruf di layar, walaupun sekedar "hmm", "iya" atau "oke", tapi ini beda, sederhana namun indah. 

Sudah tak aneh rasanya ketika dua remaja sedang jatuh cinta, rasa rindu tumbuh seperti bunga yang tak pernah layu.

Malam itu setiap detik terasa seperti perjalanan yang panjang, karena jarak jauh ini yang memisahkan. Tebal kabut kesepian menyelimuti pikiran ini, dan hanya bayanganmu yang mampu mengusirnya.

Berpindah posisi dari singgah sana depan layar, ke posisi di atas kursi lipat dengan meja yang tertumpuk dari ban bekas. Membuka sosial media, menggulirkan layar ke atas-bawah, geser kanan kiri dan sesekali membuka galeri untuk melihat wajahnya.

Ponsel ini masih dalam genggaman tangan, seakan ini adalah jembatan yang menghubungkan jarak yang jauh ini. pesan-pesan pendek ini menjadi pelipur rindu, meskipun tetap tak dapat menggantikan kehadiranmu yang sebenarnya. Melalui layar itu, aku merasakan getaran kasih sayangmu, seolah engkau ada di sini, meski dalam bentuk virtual.

Ada kalanya rindu ini begitu menyakitkan. Terutama saat keseharianmu hanya bisa kuceritakan dalam kata-kata, dan pelukanmu hanya bisa kubayangkan. Namun, aku bersyukur atas waktu-waktu yang telah kita lewati bersama, dan aku percaya bahwa suatu hari nanti, kita akan bertemu, setidaknya bertemu dahulu dan semoga bisa tetap dipersatukan.


Antongrh
Seperti Ini Harmonisasi Seorang Dosen di STAI At-Taqwa Bekasi

Seperti Ini Harmonisasi Seorang Dosen di STAI At-Taqwa Bekasi


Pendidikan tinggi adalah tahap kritis dalam pembentukan karakter dan keterampilan mahasiswa. STAI At-Taqwa Bekasi, sebagai lembaga pendidikan Islam, memiliki tanggung jawab besar untuk mencetak generasi yang berkualitas. Namun, dalam perjalanan perkuliahan, terdapat tantangan yang muncul terkait pemahaman dosen terhadap peraturan kampus, terutama dalam aspek absensi dan penilaian.

Ketidakpahaman Dosen terhadap Peraturan Kampus

Salah satu masalah yang dihadapi mahasiswa di STAI At-Taqwa Bekasi adalah ketidakpahaman beberapa dosen terhadap peraturan kampus terkait absensi dan penilaian. Beberapa dosen, terkadang tidak konsisten dalam memberikan penjelasan dan penerapan aturan tersebut. Hal ini menciptakan ketidakpastian di antara mahasiswa, yang pada akhirnya dapat memengaruhi motivasi dan kinerja akademis mereka.

Sikap Berkuasa yang Melebihi Batas

Dalam beberapa kasus, dosen yang memegang mandat sebagai 'ketua' dapat mengembangkan sikap berkuasa yang melebihi batas. Sebagai pemegang otoritas, seharusnya dosen dapat menjalankan tugasnya dengan adil dan transparan. Namun, beberapa kasus menunjukkan bahwa kekuasaan yang dimiliki dapat disalahgunakan, terutama dalam hal memberikan absen, menetapkan nilai, dan memberikan tugas akhir. Sikap ini dapat menciptakan ketidaksetaraan di antara mahasiswa dan merugikan proses pendidikan.

ilustrasi: GoogleMaps/STAI At-Taqwa Bekasi

Perlunya Harmonisasi Peran Dosen dan Aturan Kampus

Penting untuk mencapai harmonisasi antara peran dosen dan aturan kampus di STAI At-Taqwa Bekasi. Dosen sebagai agen pembimbing harus memahami bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk memberikan pedoman yang jelas terkait peraturan kampus kepada mahasiswa. Sebaliknya, aturan kampus harus dirancang dengan baik dan disosialisasikan secara efektif agar dosen dapat mengimplementasikannya dengan benar.

Peran Penting Koordinasi dan Komunikasi

Koordinasi dan komunikasi yang baik antara dosen dan pihak pengelola kampus adalah kunci untuk mencapai harmonisasi tersebut. Dosen perlu diberikan pemahaman yang mendalam tentang peraturan kampus dan dilibatkan dalam proses perancangan aturan yang relevan dengan konteks pembelajaran. Di sisi lain, pengelola kampus harus menjalankan peran pengawasan untuk memastikan bahwa aturan yang ada dijalankan dengan konsisten dan adil.


STAI At-Taqwa Bekasi memiliki potensi besar untuk mencetak generasi yang unggul dan berkualitas. Namun, tantangan terkait pemahaman dosen terhadap peraturan kampus dapat menjadi hambatan dalam mencapai tujuan tersebut. Melalui harmonisasi peran dosen dan aturan kampus, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih adil, transparan, dan memberikan dorongan positif bagi perkembangan mahasiswa. Koordinasi dan komunikasi yang baik akan menjadi kunci untuk mengatasi permasalahan ini dan memastikan bahwa pendidikan di STAI At-Taqwa Bekasi berlangsung secara efektif.
Mengenal Kelemahan Adalah Awal Kekuatan

Mengenal Kelemahan Adalah Awal Kekuatan

"Jangan takut pada kelemahanmu, karena mereka akan menjadi kekuatanmu jika kamu memiliki tekad untuk mengubahnya." - Muhammad Ali

Banyak sudah kisah inpiratif yang bisa kita temui di internet saat ini, bagaimana mereka bangkit, berjuang, dan memetik buah bahkan mereka yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kita.

Berbagai sudut pandang dari karya seni banyak yang menceritakan bagaimana kelemahan diubah menjadi kekuatan seperti, musik, film sampai pewarna yang mengeras diatas kanvas.

Ada salah satu kisah pada zaman Yunani kuno tentang pemuda bernama Achilles, merupakan pahlawan yang tekenal dalam mitologi Yunani. Dia merupakan anak dari Thetis (dewi laut) dan Peleus (seorang raja manusia). 

Saya tidak akan menceritakan tentang cerita ini. Tapi, semoga cerita ini bisa kamu temukan di internet dan baca kembali tulisan ini setelah kamu baca tentang kisah Achilles. 

ilustrasi: Emiliano Vittoriosi on Unsplash

Saya hanya ingi membuat rangkuman inspiratif dari berbagai banyak kisah, dengan harapan bisa mengubah kelemahan menjadi kekuatan:

Kenali dan Terima Kelemahan Kita

Mengenali dan menerima kelemahan adalah langkah pertama menuju pertumbuhan pribadi yang sejati. Ini melibatkan introspeksi diri untuk mengidentifikasi area di mana kita dapat berkembang. Dengan pengenalan yang jujur terhadap kelemahan, kita membuka pintu untuk perbaikan dan pembaruan diri. Terimalah bahwa kelemahan adalah bagian dari diri kita dan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Rendah Hati dan Bersedia Belajar

Rendah hati adalah kunci dalam menghadapi kelemahan. Bersedia belajar dari pengalaman, baik dari kesalahan maupun kekurangan, adalah tindakan bijaksana. Sikap ini memungkinkan kita untuk terus berkembang, tidak terhalang oleh ego, dan menerima pembelajaran dari setiap situasi. Buka pikiran dan hati kita untuk menerima masukan dari orang lain dan belajar dari kesalahan kita sendiri.

Identifikasi Potensi dan Kelemahan

Mengetahui tidak hanya kelemahan tetapi juga potensi dalam diri merupakan langkah penting. Dengan mengidentifikasi potensi, kita dapat mengarahkan energi pada aspek positif dan membangun kelemahan sebagai batu loncatan menuju pertumbuhan. Jadikan kepekaan ini sebagai kekuatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dedngan orang lain.

Fokus Pada Pengembangan Diri

Mengarahkan fokus pada pengembangan diri membantu kita merancang rencana aksi untuk mengatasi kelemahan. Dengan kesadaran diri yang tinggi, kita dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan berkomitmen pada perjalanan menuju versi terbaik dari diri sendiri. Misalnya, jika kita kurang berbakat dalam berbicara di depan umum, ambilah khursus atau ikuti kelompok diskusi untuk memperbaiki keterampilan komunikasi kita.

Tetaplah Gigih dan Pantang Menyerah

Proses pengembangan diri tidak selalu mudah. Keberhasilan memerlukan ketekunan dan keteguhan hati. Dalam menghadapi kelemahan, perlu untuk memahami bahwa perubahan memerlukan waktu. Tetap gigih dan pantang menyerah adalah kunci untuk melampaui hambatan. Ingat, bahwa setiap langkah maju membawa kita lebih dekat dengan transformasi kelemahan menjadi kekuatan.

Bangun Lingkungan yang Mendukung

Lingkungan memiliki peran penting dalam pertumbuhan pribadi. Membangun lingkungan yang mendukung berarti mengelilingi diri dengan orang-orang yang positif, memberikan dukungan, dan memotivasi. Hal ini membantu mengatasi kelemahan dengan lebih baik.

Jangan Biarkan Kritik Meruntuhkan Semangat

Kritik merupakan bagian dari perjalanan menuju perbaikan diri. Penting untuk tidak membiarkan kritik meruntuhkan semangat. Sebaliknya, gunakan kritik sebagai sumber pembelajaran dan motivasi untuk terus berkembang.

Terapkan Kelemahan sebagai Sumber Kreativitas

Kelemahan dapat menjadi sumber kreativitas yang tak terduga. Dengan memandang kelemahan sebagai tantangan untuk menemukan solusi kreatif, kita dapat mengubah perspektif dan menghasilkan inovasi yang unik. Mencari cara-cara baru dalam menghadapi kelemahan dan memperkuat diri.

Fokus Pada Proses, Bukan Hasi Akhir

Penting untuk fokus pada proses perbaikan diri daripada hanya hasil akhir. Dengan memahami bahwa setiap langkah kecil adalah bagian dari perjalanan, kita dapat menghargai upaya diri sendiri dan melihat pertumbuhan yang kontinu sebagai pencapaian yang sejati. Setiap usaha yang kita lakukan membawa kita lebih dekat pada mencapai kekuatan dari kelemahan kita.

Achilles dalam kisahnya berkata "Mengenal Kelemahan adalah Awan dari Kekuatan". Jadilah pribadi yang kuat dan gigih dalam menghadapi kelemahan kita, saksikanlah bagaimana transformasi diri kita membawa dampak positif dalam hidup kita dan orang lain.

Semoga dengan panduan diatas  bisa membawa kita memiliki potensi besar untuk mengubah diri kita dan memengaruhi orang disekitar kita.


Loe Gak Males, Cuma Lagi Burnout Aja!

Loe Gak Males, Cuma Lagi Burnout Aja!

Ilustrasi: Unsplash/Annie Spratt

Kehidupan yang serba digital, sering kali memaksa kita untuk terus bergerak, mencapai target, dan menjadi produktif. Tuntutan ini kadang-kadang terlalu berat, dan seringkali kita merasa kelelahan. Kalimat "Loe Gak Males, Cuma Lagi Burnout Aja!" mungkin terdengar familiar bagi banyak orang. Kadang-kadang, kita merasa malas untuk melakukan sesuatu, padahal sebenarnya kita sedang mengalami kelelahan berat yang bisa memengaruhi kesehatan mental dan fisik kita.

Contoh di kehidupan nyata seringkali mencerminkan paradoks ini. Bayangkan seorang profesional muda yang bekerja di industri yang kompetitif. Dia adalah pekerja keras yang selalu tampak antusias dalam mengejar kesuksesan. Namun, suatu hari, dia merasa kelelahan yang mendalam. Bukan karena malas, melainkan karena burnout. Tugas-tugas yang menumpuk, tekanan kerja yang tinggi, dan ekspektasi yang terus-menerus membuatnya kehilangan semangat.

Seiring waktu, dia merasa sulit untuk bangkit setiap pagi dan pergi bekerja. Pekerjaan yang dulu dianggapnya sebagai passion, sekarang terasa seperti beban berat yang sulit diemban setiap harinya. Kesenangan dalam pekerjaan tersebut reda, digantikan oleh rasa kelelahan yang mendalam. Dia mungkin tampak malas atau kehilangan semangat, padahal sebenarnya dia sedang mengalami burnout yang serius.

Faktor-faktor yang menyebabkan burnout bisa sangat bervariasi. Misalnya, tekanan dari atasan yang terlalu tinggi, tuntutan deadline yang sulit dikejar, atau bahkan masalah dalam hubungan interpersonal di tempat kerja. Ketika semua ini bertumpuk, seseorang bisa merasa tidak mampu lagi untuk terus melangkah maju.

Kejadian serupa juga bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ibu rumah tangga yang bertanggung jawab untuk mengurus rumah tangga, anak-anak, dan mungkin juga bekerja di luar rumah bisa mengalami situasi serupa. Meskipun dia tidak malas, melainkan berjuang untuk menyeimbangkan semua tanggung jawabnya, sehingga pada suatu titik, dia merasa kelelahan yang luar biasa.

Media Sosial

Dalam era digital, keseharian yang diwarnai oleh media sosial juga bisa menjadi pemicu burnout. Menyusuri berbagai tampilan kehidupan yang sempurna dari orang lain di platform media sosial dapat menciptakan tekanan untuk mencapai standar yang mungkin tidak realistis. Ini bisa menyebabkan kelelahan yang mendalam dan kehilangan semangat untuk menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.

Bagaimana kita dapat mengatasi perasaan burnout ini? Pertama-tama, kita perlu mengakui bahwa kelelahan bukanlah tanda malas. Kelelahan adalah sinyal dari tubuh dan pikiran kita bahwa mereka butuh istirahat. Alih-alih memaksa diri untuk terus bekerja, memberi diri kita izin untuk istirahat adalah langkah pertama yang penting.

Dalam contoh profesional muda tadi, dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia memutuskan untuk berbicara dengan atasan dan meminta dukungan. Memiliki percakapan terbuka tentang kelelahannya membuka pintu untuk solusi yang dapat membantu memulihkan keseimbangan hidupnya.

Seorang ibu rumah tangga juga bisa mencari dukungan dari keluarga atau teman-teman. Mendelegasikan tanggung jawab atau merencanakan waktu untuk istirahat dapat membantu mengurangi beban yang dirasakannya.

Dalam mengatasi burnout, penting untuk melakukan introspeksi terhadap gaya hidup dan ekspektasi yang diterapkan pada diri sendiri. Mungkin saatnya untuk mengevaluasi prioritas, menetapkan batasan yang jelas, dan menemukan cara untuk merayakan keberhasilan kecil sehari-hari tanpa terlalu banyak menekan diri.

⧫ ⧫ ⧫

Terkadang kita perlu mengenali bahwa kelelahan bukanlah hasil dari kemalasan. Melainkan, itu adalah tanda dari tubuh dan pikiran kita yang meminta istirahat. Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan ini, sangat penting untuk menghormati dan merawat diri sendiri. Menerima bahwa burnout bukanlah kelemahan, melainkan panggilan untuk merawat diri, adalah langkah pertama menuju pemulihan yang sehat.




Keep in touch!

See you, peace