Dulu Dihukum, Sekarang Siapa yang Negur?

Dulu Dihukum, Sekarang Siapa yang Negur?


Dulu kalau salah, ada yang negur. Kalau melanggar aturan, ada hukumannya. Kalau kabur terus ketahuan, ya udah, auto kena mudabbir.

Anehnya, sekarang gue malah kangen masa-masa itu.

Setiap tanggal 22 Oktober, linimasa kembali ramai dengan perayaan Hari Santri. Orang-orang mengunggah foto, mengenang masa-masa di pesantren.

Gue ikut senang melihatnya.

Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa mengganjal.

Awalnya gue mempertanyakan orang-orang yang begitu bangga dengan identitasnya. Apa nilai-nilai itu masih mereka bawa? Atau cuma kembali diingat ketika hari perayaannya tiba?

Sampai akhirnya gue sadar, kok gue malah sibuk mempertanyakan orang lain?

Memangnya gue sendiri sudah sejauh apa?

Gue pernah menghabiskan waktu belajar bersama teman-teman di pesantren. Belajar bareng, kabur bareng, dihukum bareng. Banyak hal yang sekarang justru terasa lucu kalau diingat. Memang benar Tragedi + Waktu = Komedi

Ada juga kenangan kecil yang dulu sempat jadi bahan ledekan beberapa teman. Sepele sebenarnya. Kadang cuma berharap berpapasan, lalu pura-pura biasa aja kalau kebetulan benar-benar ketemu.

Lucunya, hal sesederhana itu pernah cukup buat bikin satu hari terasa berbeda.

Sekarang entah bagaimana kabarnya. Masih mungkin nggak ya, sekadar berpapasan lagi seperti dulu?

Ah, namanya juga kenangan. Kadang datang tanpa diundang, termasuk yang dulu nggak pernah ke mana-mana.

Kami bukan sekumpulan anak baik yang nggak pernah bikin masalah. Justru ada banyak kenakalan yang dulu kami lakukan.

Tapi di tengah semua itu, ada hal-hal yang diajarkan. Tentang adab, kejujuran, menghormati orang lain, dan memahami bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, selalu ada alasan untuk tetap rendah hati.

Dulu gue mungkin belum sepenuhnya mengerti.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, gue mulai bertanya-tanya: sebenarnya gue sudah mengerti, atau cuma pernah mendengarnya?

Karena kenyataannya, gue masih sering berbohong. Kadang sombong. Kadang merasa paling tahu. Bahkan untuk urusan yang sebenarnya nggak gue pahami.

Ada kalanya gue sadar sedang salah, tapi tetap melakukannya.

Ada juga saat-saat ketika gue bahkan lupa kalau sesuatu yang gue lakukan itu salah.

Yang lebih menyebalkan, semakin dewasa, gue justru semakin pintar mencari alasan untuk membenarkan diri sendiri.

Dulu kalau salah, ada yang mengingatkan.

Sekarang, kadang gue malah tersinggung kalau diingatkan.

Lucu juga. 😅

Katanya semakin dewasa harusnya semakin bijaksana. Tapi kenapa untuk sekadar mengakui kesalahan sendiri saja kadang rasanya semakin susah?

Tahun ini, Hari Santri mengangkat tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas."

Sebuah cita-cita besar.

Dan gue percaya, pendidikan yang baik memang seharusnya membawa manfaat jauh melampaui tempat seseorang belajar.

Tapi ketika mendengar tentang menguatkan negeri, gue malah teringat betapa seringnya gue kalah oleh ego sendiri.

Bagaimana mau bicara tentang perubahan yang besar, kalau memperbaiki kebiasaan kecil dalam diri sendiri saja masih sering gue tunda?

Mungkin selama ini yang gue rindukan bukan cuma teman-teman, kamar, pelajaran, atau kenakalan masa lalu.

Mungkin gue juga merindukan masa ketika gue masih mau diajar, masih terbiasa ditegur, dan belum terlalu pandai merasa benar.

Gue nggak tahu kapan semua itu mulai berubah.

Dan gue juga nggak mau berpura-pura bahwa setelah menulis ini, besok gue otomatis menjadi orang yang lebih baik.

Bisa jadi besok gue masih mengulangi kesalahan yang sama.

Tapi setidaknya, hari ini gue ingin mengingat kembali sesuatu yang perlahan gue abaikan.

Bahwa pernah belajar tentang kebaikan bukan berarti gue sudah menjadi orang baik.

Bahwa pernah menerima pelajaran bukan berarti gue sudah mengamalkannya.

Dan bahwa keluar dari tempat belajar bukan berarti proses belajarnya harus ikut selesai.

Dulu, kalau gue salah, ada orang yang menghukum.

Sekarang, nggak selalu ada yang tahu. Nggak selalu ada yang menegur. Bahkan kadang nggak ada konsekuensi yang langsung terasa.

Dan mungkin itu yang justru lebih menakutkan.

Dulu gue takut ketahuan salah. Sekarang gue takut sudah terlalu terbiasa salah, sampai nggak merasa perlu ditegur lagi.

Selamat Hari Santri.

Semoga, ketika ada yang mengingatkan, gue masih mau mendengar.