Aku mah apa atuh
ThoughtsBagaimana mengatasi perasaan minder seperti "Aku mah apa atuh"?
Jika ditanya bagaimana mengatasinya, maka akan lebih baik kita tahu apa penyebab-nya dulu, kenapa seseorang menjadi minder!.
Terlepas dari istilah apapun yang digunakan untuk membully diri sendiri, efek minder tetaplah sama; negatif.
Mari kita susun apa saja penyebab umum yang paling mungkin:
Orang tua yang toxic, (mungkin).
Bukan bermaksud durhaka, hanya saja jika ditanya siapa orang paling dekat secara emosional hampir pasti semua orang menjawab ibu/ayah.
Ya, dengan kata lain, orang tua berperan penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak yang suka minder biasanya, seringkali karena sedari kecil kurang mendapatkan pengakuan hingga pujian dari orang tuanya.
Apapun yang dilakukan anaknya sekalipun itu kata orang-orang adalah sebuah prestasi, tapi orang tua biasa saja bahkan masih saja merendahkan tanpa sedikitpun terlontar kalimat pujian. Akhirnya setelah tumbuh semakin mendewasa seorang anak jadi terstimulus untuk lihai "membangun dinding" yang akan membatasi kemampuannya sendiri di kemudian hari.
Teman yang tidak suportif/bullying masa kecil.
Selain orang tua, teman juga berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter seorang anak. Mereka yang cenderung kurang asupan perhatian dan dukungan di rumah lalu ditambah dengan bully-an teman-temannya. Anak yang mengalami ini akan berpotensi lebih besar menjadi pribadi yang minder di lingkungan sosialnya hingga dewasa.
Pembenaran diri
Faktor ini lebih kepada intuisi diri untuk membenarkan faktor-faktor eksternal tadi. Kalimat-kalimat seperti:
- Kamu bodoh.
- Kamu gak menarik sama sekali.
- kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu mau.
- Kamu gak kayak orang lain.
- Kamu gagal.
- Kamu gendut.
- Kamu pecundang.
- Kamu nggak akan punya teman.
- Nggak akan ada orang yang mencintai kamu.
- Apa gunanya mencoba?
Adalah kata-kata klise dalam kamus hidup manusia minder-an.
Maka cara terbaik untuk mengatasi minder adalah mendelete satu-satu kalimat yang muncul di kepala sebagai bentuk peremehan terhadap diri sendiri. Buang jauh-jauh itu semua. Sertakan bantahan terhadap diri sendiri di akhir kalimat.
Kamu Bodoh. Kamu nggak bodoh, kamu pintar. Buktinya kamu bisa.. (sebut pencapaianmu, akademikmu boleh)
Kamu gak menairk sama sekali. Kata siapa? Anggota tubuh saya lengkap, saya masih bisa tersenyum, orang-orang juga tidak pernah mengatakan saya buruk rupa. So why?
Kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau. Bisa kok, asal mau usaha. Usaha aja belum sok tau amat, mau jadi Tuhan?
Kamu gak kayak orang lain. Woyy... hellow. Orang kembar aja gaak akan pernah sama dalam hal apapun, ngapain pusing dengan pencapaian orang. Saya punya jalan dan cara sendiri, loe tunggu aja deh eksyen gue.
Kamu gagal. Adu duuh, nyoba aja belum, keringetan aja belum udah bilang gagal aja. Pe ak.
Kamu gendut. Emang kenapa kalo gendut, Adele aja cantik meski gendutan (*sorry ya Del)
Kamu pecundang. Brisik loe, siapa si loe. Sini kalo berani. Kita buktikan siapa yang pecundang.
Kamu nggak akan punya teman. Ya iyalah kalo kerjaannya ngurung di kamar. Gue kan enggak, gue sekolah, kuliah, kerja jadi gimana mungkin gak punya temen. Sakit loe?
Nggak akan ada orang yang mencintaimu. Oalah jadi mau ngomongin jodoh nih? Eh dengerin yah, gue punya modal cinta sama diri gue sendiri jadi peduli amat ada yang mau suka atu nggak sama gue. Selama gue bisa bawa diri dimanapun entar juga ketemu. Cinta mencintai cuma butuh waktu cuyy. Apa kabar dirimu?
Apa gunanya mencoba. Sakit loe, bener deh! Kalo loe nggak coba merangkak, berdiri lari dan terjatuh saat loe kecil loe gak akan bisa se-pecicilan sekarang. Trus dulu apa namanya kalo bukan coba-coba, loe belajar terus kan meski sulit dan tau loe bakal jatuh.
Cerita/kata-kata dalam blog ini sekedar pengalam pribadi dan beberapa orang yang memberi tanggapan dalam Q&A di instastory gue, jika kalian merasakannya coba deh lakukan hal diatas, trust me, it works 😉