Ramai di Sekitar, Sepi di Dalam

Ramai di Sekitar, Sepi di Dalam


Ada masa ketika kita bertemu banyak orang setiap hari, tetapi tetap merasa sendirian.

Kita bekerja, berbicara, tertawa, membalas pesan, membuka media sosial, lalu pulang dengan kepala yang tetap ramai. Dari luar, hidup terlihat normal. Kita masih bisa bercanda, masih bisa menjalankan kewajiban, masih bisa terlihat baik-baik saja.

Tapi ada sesuatu yang terasa kosong.

Bukan karena tidak punya teman. Bukan juga karena tidak ada orang di sekitar. Hanya saja, tidak semua orang benar-benar tahu apa yang sedang kita pikirkan. Tidak semua orang tahu seberapa berat hal-hal yang kita simpan sendiri.

Kadang kita hanya ingin duduk dan bicara tanpa takut dihakimi. Tanpa harus menjelaskan semuanya dari awal. Tanpa menerima nasihat yang sebenarnya tidak kita minta.

Namun, semakin dewasa, rasanya semakin sulit menemukan ruang seperti itu.

Kita Bertemu, tetapi Tidak Selalu Terhubung

Setiap hari kita bisa bertemu banyak orang.

Teman kantor, tetangga, keluarga, pelanggan, orang-orang di jalan, atau sekadar nama-nama yang muncul di layar ponsel. Kita saling menyapa dan bertanya, “Apa kabar?”

Pertanyaan sederhana yang hampir selalu dijawab dengan jawaban yang sama.

“Baik.”

Padahal belum tentu.

Mungkin kita sedang takut kehilangan pekerjaan. Mungkin sedang bingung dengan arah hidup. Mungkin ada masalah keluarga yang tidak bisa diceritakan. Mungkin kita sedang kelelahan memikirkan uang yang selalu habis sebelum semua kebutuhan selesai.

Tetapi kita tetap menjawab, “Baik.”

Bukan karena ingin berbohong. Kadang kita sendiri tidak tahu harus mulai bercerita dari mana.

Ada terlalu banyak hal yang bercampur di kepala. Terlalu banyak masalah yang saling berkaitan. Kita takut cerita kita terlalu panjang. Takut merepotkan. Takut dianggap tidak bersyukur. Takut orang lain hanya mendengar untuk kemudian membandingkan hidupnya dengan hidup kita.

Akhirnya, kita memilih diam.

Semakin Dewasa, Hidup Terasa Semakin Sunyi

Dulu, kita mungkin berpikir bahwa menjadi dewasa berarti bisa melakukan apa saja.

Punya penghasilan sendiri, menentukan pilihan sendiri, pergi ke mana pun yang kita mau, dan tidak lagi harus meminta izin untuk banyak hal.

Ternyata menjadi dewasa juga berarti mulai memahami bahwa tidak semua masalah punya jawaban cepat.

Kita mulai berhadapan dengan tagihan, pekerjaan, tanggung jawab keluarga, kesehatan, masa depan, dan keputusan-keputusan yang dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini.

Kita juga mulai sadar bahwa setiap orang sibuk dengan perjuangannya sendiri.

Teman yang dulu sering mendengar cerita kita kini punya masalahnya sendiri. Orang tua mulai membutuhkan perhatian lebih. Saudara punya kehidupan masing-masing. Bahkan orang yang terlihat paling dekat pun belum tentu memahami bagian diri yang selama ini kita sembunyikan.

Bukan karena mereka tidak peduli.

Mungkin mereka juga sedang berusaha bertahan.

Di situlah kesendirian terasa aneh. Kita tidak benar-benar sendiri, tetapi kita juga tidak merasa sepenuhnya ditemani.

Uang Membuat Semuanya Terasa Lebih Berat

Banyak orang bilang uang bukan segalanya.

Itu benar.

Tetapi saat uang tidak cukup, banyak hal terasa jauh lebih berat.

Ketika kondisi keuangan tidak baik, masalah kecil bisa terasa besar. Kita menjadi lebih mudah cemas, lebih sulit beristirahat, dan lebih sering memikirkan hal-hal yang bahkan belum terjadi.

Bagaimana kalau bulan depan tidak cukup?

Bagaimana kalau tiba-tiba sakit?

Bagaimana kalau pekerjaan berhenti?

Bagaimana kalau keluarga membutuhkan bantuan?

Bagaimana kalau semua rencana harus ditunda lagi?

Kecemasan tentang uang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Kita tetap datang bekerja. Tetap menjawab pesan. Tetap tersenyum. Tetapi di dalam kepala, kita sedang menghitung sisa saldo, cicilan, kebutuhan rumah, biaya transportasi, dan segala pengeluaran yang tidak bisa dihindari.

Di saat seperti itu, kesendirian terasa lebih dalam.

Kita ingin cerita, tetapi malu. Kita takut dianggap gagal mengatur hidup. Takut dianggap kurang bekerja keras. Padahal kadang masalahnya bukan karena kita boros atau malas. Kadang hidup memang sedang tidak mudah.

Penghasilan bertambah sedikit, kebutuhan bertambah banyak. Harga-harga naik. Tanggung jawab datang tanpa bertanya apakah kita sudah siap.

Kita kemudian belajar menyimpan semuanya sendiri.

Tidak Semua Orang yang Tersenyum Sedang Baik-Baik Saja

Mungkin orang yang duduk di samping kita juga sedang memikirkan hal yang sama.

Mungkin teman yang terlihat santai sedang berusaha menutup utang. Mungkin orang yang selalu bercanda sedang menghadapi masalah di rumah. Mungkin seseorang yang rajin mengunggah foto bahagia sebenarnya sedang merasa kosong.

Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dihadapi orang lain.

Karena itu, mungkin kita perlu berhenti terlalu cepat menilai kehidupan seseorang hanya dari apa yang terlihat.

Ada orang yang terlihat kuat karena memang tidak punya pilihan selain tetap berjalan.

Ada orang yang diam bukan karena tidak punya masalah, tetapi karena sudah terlalu lelah menjelaskannya.

Ada orang yang selalu membantu orang lain karena ia tahu rasanya tidak memiliki siapa-siapa saat sedang kesulitan.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita juga seperti itu.

Kita terlihat baik-baik saja karena hidup tidak memberi banyak waktu untuk berhenti.

Kita Tidak Harus Menyelesaikan Semuanya Hari Ini

Ada tekanan besar untuk segera berhasil.

Kita melihat orang lain sudah punya rumah, kendaraan, pekerjaan yang bagus, pasangan, tabungan, dan kehidupan yang terlihat lebih tertata.

Lalu kita melihat diri sendiri dan merasa tertinggal.

Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perjalanan mereka. Kita hanya melihat hasil akhirnya, bukan rasa takut, kegagalan, utang, kehilangan, atau malam-malam panjang yang mereka lalui.

Hidup bukan perlombaan yang semua pesertanya mulai dari tempat yang sama.

Ada orang yang sejak awal mendapat dukungan. Ada yang harus membangun semuanya sendirian. Ada yang bisa mencoba berkali-kali karena punya tempat untuk kembali. Ada juga yang harus berhati-hati karena satu kesalahan bisa membuat seluruh hidupnya berantakan.

Jadi, tidak apa-apa kalau hari ini kita belum sampai ke mana-mana.

Tidak apa-apa kalau kondisi keuangan kita belum stabil.

Tidak apa-apa kalau kita masih bingung.

Tidak apa-apa kalau sesekali merasa lelah dan sendirian.

Yang penting, jangan berhenti mengenali apa yang sedang terjadi dalam diri kita.

Mulai dari Hal yang Masih Bisa Kita Kendalikan

Kita memang tidak bisa mengatur semua hal.

Kita tidak bisa memaksa orang lain memahami kita. Tidak bisa mengendalikan harga kebutuhan. Tidak bisa memastikan pekerjaan akan selalu aman. Tidak bisa menjamin hidup akan berjalan sesuai rencana.

Tetapi masih ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.

Kita bisa mulai jujur pada diri sendiri.

Mengakui bahwa kita sedang lelah bukan berarti lemah. Mengakui bahwa kondisi keuangan sedang berantakan bukan berarti gagal. Mengakui bahwa kita merasa kesepian bukan berarti kita tidak bersyukur.

Kita juga bisa mulai memperbaiki hidup dari langkah kecil.

Mencatat pengeluaran. Mengurangi hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Menyisihkan uang meskipun sedikit. Berhenti memaksakan gaya hidup hanya agar terlihat berhasil.

Kita bisa belajar meminta bantuan. Tidak harus kepada semua orang. Cukup kepada satu orang yang kita percaya.

Kita bisa mulai membuka percakapan yang lebih jujur. Bukan hanya bertanya, “Apa kabar?” tetapi juga benar-benar mendengarkan jawabannya.

Dan yang paling penting, kita bisa belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.

Tidak semua hari harus produktif. Tidak semua masalah harus selesai malam ini. Tidak semua kegagalan harus dianggap sebagai bukti bahwa hidup kita tidak akan berhasil.

Kadang, bertahan satu hari lagi juga merupakan bentuk keberanian.

Lakukan yang Terbaik, Meski Tidak Selalu Terlihat Hebat

Mungkin hidup kita tidak sedang berada di titik yang membanggakan.

Mungkin belum ada banyak hal yang bisa diceritakan. Belum punya tabungan besar. Belum punya pekerjaan impian. Belum punya pasangan. Belum punya rumah. Belum menjadi orang yang selama ini kita bayangkan.

Tetapi hidup tidak hanya dihitung dari pencapaian besar.

Hidup juga terdiri dari keputusan-keputusan kecil yang tidak dilihat siapa pun.

Bangun meski sedang kehilangan semangat.

Tetap bekerja meski hasilnya belum seberapa.

Menahan diri untuk tidak menghabiskan uang demi terlihat mampu.

Berusaha menjadi orang baik meski hidup tidak selalu memperlakukan kita dengan baik.

Menghubungi seseorang ketika kesendirian mulai terasa terlalu berat.

Mencoba lagi setelah berkali-kali gagal.

Semua itu mungkin terlihat biasa. Tetapi sering kali, justru hal-hal kecil itulah yang membuat kita tetap hidup.

Kita mungkin belum bisa mengubah seluruh keadaan hari ini.

Namun, kita masih bisa memilih untuk tidak menyerahkan hidup sepenuhnya kepada keadaan.

Kita masih bisa berusaha mengatur satu hal kecil. Menyelesaikan satu masalah. Menghemat satu pengeluaran. Menghubungi satu orang. Mengambil satu langkah.

Tidak harus hebat.

Tidak harus cepat.

Asal terus bergerak.

Karena mungkin tujuan hidup bukan selalu menjadi orang yang paling berhasil, paling kaya, atau paling dikagumi.

Mungkin tujuan kita hanya menjadi seseorang yang, meskipun berkali-kali merasa sendirian, tetap memilih untuk hidup dengan baik.

Tetap berbuat baik.

Tetap belajar.

Tetap berusaha.

Dan tetap percaya bahwa hidup yang hari ini terasa berat, suatu saat bisa menjadi cerita tentang bagaimana kita berhasil melewatinya.
Realita Dibalik Nama IAN (Institut Attaqwa Bekasi)

Realita Dibalik Nama IAN (Institut Attaqwa Bekasi)

Thoughts - Perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat di mana mahasiswa bisa berkembang, baik dalam hal akademik maupun pribadi. Namun, bagaimana jika institusi yang seharusnya memberikan pelayanan terbaik justru mempermainkan para mahasiswanya? Fenomena ini sayangnya terjadi di Institut Attaqwa KH. Noer Ali, Bekasi, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Attaqwa.

Perubahan nama dari STAI Attaqwa menjadi Institut Attaqwa KH. Noer Ali tentu diharapkan membawa perubahan positif, terutama dalam hal manajemen dan pelayanan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa perubahan tersebut lebih bersifat kosmetik, tanpa ada perbaikan nyata yang dirasakan oleh mahasiswa.

Contoh paling sederhana adalah pada pembuatan kartu mahasiswa. Bayangkan, sebuah institusi yang mengklaim dirinya sebagai perguruan tinggi, namun hanya mampu memberikan kartu mahasiswa berupa selembar kertas HVS yang dilaminasi. Bukankah ini sebuah penghinaan terhadap mahasiswa? Identitas mahasiswa seharusnya dijaga dan dihargai, bukan diperlakukan dengan cara yang begitu asal-asalan.


Selain itu, pengumpulan data mahasiswa yang berulang kali juga menunjukkan ketidakprofesionalan dalam manajemen data. Mahasiswa dipaksa mengisi atau mengumpulkan data yang sama berulang. Ini bukan hanya membuang waktu, tetapi juga menunjukkan betapa tidak efektifnya sistem yang diterapkan oleh kampus ini.

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang seharusnya menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat, justru diwarnai dengan ketidakjelasan. Informasi mengenai lokasi dan detail kegiatan sering kali berubah-ubah tanpa ada komunikasi yang baik kepada mahasiswa. Ketidakpastian ini tentu saja menambah beban mental bagi mahasiswa, yang seharusnya bisa fokus pada persiapan dan pelaksanaan KKN.

Baca Tentang KKN dan PPLK:

Puncaknya, ketika tiba saatnya wisuda, mahasiswa dihadapkan dengan seragam wisuda yang kualitasnya jauh dari kata layak. Sablon yang lepas, medali yang tidak presisi, hingga sisa benang yang masih menumpuk menunjukkan bahwa seragam tersebut diproduksi tanpa proses Quality Control (QC) yang memadai. Bagaimana kampus ini bisa bangga mempromosikan dirinya jika hal mendasar seperti ini saja diabaikan?


Semua ini menggambarkan betapa buruknya manajemen di Institut Attaqwa KH. Noer Ali.

Transformasi dari STAI menjadi Institut seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki segala aspek pelayanan dan manajemen, bukan sekadar perubahan nama tanpa makna. Jika situasi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin reputasi kampus ini akan terus menurun, dan minat calon mahasiswa untuk bergabung pun akan semakin berkurang.

Dalam dunia pendidikan tinggi, nama besar saja tidak cukup. Yang terpenting adalah kualitas dan integritas dalam memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa. Sayangnya, hal ini tampaknya belum menjadi prioritas di Institut Attaqwa KH. Noer Ali. Sudah saatnya pihak kampus membuka mata dan telinga, serta mulai memperbaiki diri, demi masa depan yang lebih baik bagi mahasiswa dan institusi itu sendiri.


Oh ya... Lalu bagaimana dengan opini kalian? Buat kalian para mahasiswa, dimanapun kuliahnya, apapun jurusannya, Tetap semangat ya! 😉
Apakah Pihak Kampus Tidak Memiliki Printer?

Apakah Pihak Kampus Tidak Memiliki Printer?

Dalam dunia pendidikan tinggi, administrasi yang efisien dan transparan merupakan kunci utama untuk menjaga kepercayaan mahasiswa dan orang tua. Namun, bagaimana jika sebuah kampus hingga saat ini belum mengeluarkan surat edaran terkait pembiayaan wisuda, sidang munaqosah, dan ijazah? Apakah ini menandakan ketidakmampuan dalam manajemen keuangan atau hanya sekadar masalah teknis seperti tidak adanya printer?

Masalah keterlambatan dalam pengeluaran surat edaran terkait pembiayaan bisa menjadi tanda-tanda adanya masalah yang lebih besar dalam manajemen kampus. Pertama, mari kita telaah kemungkinan ketidakmampuan manajemen keuangan. Keterlambatan semacam ini bisa jadi mencerminkan kekacauan dalam pengelolaan anggaran kampus. Tanpa perencanaan yang matang dan transparan, sulit bagi pihak kampus untuk menentukan besaran biaya yang wajar untuk berbagai kebutuhan administrasi. Keterbukaan mengenai biaya ini penting untuk menghindari kecurigaan adanya pungutan liar atau penyalahgunaan dana.

Sumber: Google

Selain itu, keterlambatan dalam penyusunan surat edaran bisa berdampak negatif pada mahasiswa. Wisuda, sidang munaqosah, dan penerbitan ijazah adalah momen penting dalam perjalanan akademik mahasiswa. Ketidakjelasan mengenai biaya dapat menambah beban stres yang sudah ada pada mahasiswa tingkat akhir. Mereka harus merencanakan keuangan mereka dengan baik, terutama bagi mereka yang mungkin memiliki keterbatasan finansial.

Namun, apakah mungkin ini semua hanya masalah teknis seperti tidak adanya printer? Tentu saja, alasan ini terasa kurang masuk akal. Di era digital saat ini, surat edaran bisa dengan mudah disebarluaskan melalui email atau platform online kampus. Jika masalahnya hanya sebatas printer, maka manajemen kampus seharusnya mampu mencari solusi cepat, seperti menggunakan jasa percetakan luar atau bahkan mengirimkan file digital yang bisa dicetak sendiri oleh mahasiswa.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Mungkin saja ada kombinasi dari kedua masalah tersebut. Kurangnya manajemen keuangan yang baik dan lemahnya sistem administrasi bisa berjalan beriringan, menyebabkan keterlambatan yang tidak perlu. Namun, tanpa adanya informasi yang transparan dari pihak kampus, sulit untuk menentukan akar masalahnya.

Dalam situasi ini, pihak kampus harus segera mengambil langkah untuk memperbaiki manajemen keuangan dan administrasi mereka. Transparansi harus menjadi prioritas utama. Mengkomunikasikan masalah dan solusi kepada mahasiswa akan membantu mengurangi kekhawatiran dan kecurigaan. Di sisi lain, mahasiswa juga harus aktif menyuarakan keluhan mereka melalui saluran yang tersedia, agar pihak kampus menyadari betapa pentingnya masalah ini untuk segera diselesaikan.

Keterlambatan dalam pengeluaran surat edaran pembiayaan wisuda, sidang munaqosah, dan ijazah bukanlah masalah sepele. Ini mencerminkan isu yang lebih mendasar dalam manajemen kampus. Pihak kampus perlu segera bertindak untuk memastikan bahwa sistem administrasi dan keuangan mereka berjalan dengan baik, demi menjaga kepercayaan dan kenyamanan mahasiswa.
Persetan Hak Istimewa!

Persetan Hak Istimewa!

Is That Earned or Given?

Hak istimewa, sebagai bentuk pengakuan atau kebijakan tertentu, menjadi pusat perhatian masyarakat dalam konteks sosial dan keadilan. Hal yang ingin saya dijelajahi dalam thoughts kali ini adalah sejauh mana hak istimewa seharusnya diberikan sebagai hasil dari usaha dan prestasi pribadi, ataukah diberikan secara kolektif tanpa melibatkan faktor tersebut? Disini saya coba telaah lebih rinci mengenai dinamika kompleks di balik hak istimewa yang muncul dari pemberian.

Sebagian kalangan meyakini bahwa hak istimewa yang diberikan tanpa melibatkan usaha atau prestasi individu dapat menciptakan ketidaksetaraan sosial yang tidak sehat. Program-program afirmatif, misalnya, sering kali dianggap sebagai intervensi eksternal yang dapat merendahkan nilai usaha dan pencapaian pribadi. Kemudia muncul pertanyaan, apakah memberikan hak istimewa tanpa mempertimbangkan upaya personal merupakan bentuk keadilan yang sesungguhnya?.

Illustrasi: Dollar Gill/Unsplash

Di sisi lain, ada pandangan yang menyatakan bahwa pemberian hak istimewa dapat dianggap sebagai upaya untuk mengkompensasi ketidaksetaraan historis. Sejarah panjang ketidakadilan sosial menjadi dasar argumen bahwa langkah-langkah afirmatif, termasuk pemberian hak istimewa, perlu diambil untuk mengoreksi ketidaksetaraan yang telah terakumulasi. Pemahaman ini membuka pintu untuk pertimbangan apakah diperlukan tindakan afirmatif untuk mencapai kesetaraan yang seharusnya.

Namun, argumen tidak selalu hitam-putih. Beberapa berpendapat bahwa penilaian hak istimewa harus mempertimbangkan konteks dan sifat ketidaksetaraan yang hendak diatasi. Mungkin diperlukan pendekatan yang seimbang antara pemberian hak istimewa berbasis prestasi individu dan tindakan afirmatif yang bertujuan mengoreksi ketidaksetaraan historis.

Nah, perdebatan seputar hak istimewa yang diperoleh karena pemberian atau diakui sebagai hak inheren menciptakan dilema kompleks. Apakah hak-hak ini melambangkan langkah positif untuk mengatasi ketidaksetaraan, ataukah mereka memberikan pembenaran pada ketidakadilan? Mungkin saatnya kita merenung dan menilai kembali apakah hak istimewa seharusnya menjadi hasil dari upaya personal ataukah memang layak diberikan secara kolektif.

So, Persetan hak istimewa!
Seperti Ini Harmonisasi Seorang Dosen di STAI At-Taqwa Bekasi

Seperti Ini Harmonisasi Seorang Dosen di STAI At-Taqwa Bekasi


Pendidikan tinggi adalah tahap kritis dalam pembentukan karakter dan keterampilan mahasiswa. STAI At-Taqwa Bekasi, sebagai lembaga pendidikan Islam, memiliki tanggung jawab besar untuk mencetak generasi yang berkualitas. Namun, dalam perjalanan perkuliahan, terdapat tantangan yang muncul terkait pemahaman dosen terhadap peraturan kampus, terutama dalam aspek absensi dan penilaian.

Ketidakpahaman Dosen terhadap Peraturan Kampus

Salah satu masalah yang dihadapi mahasiswa di STAI At-Taqwa Bekasi adalah ketidakpahaman beberapa dosen terhadap peraturan kampus terkait absensi dan penilaian. Beberapa dosen, terkadang tidak konsisten dalam memberikan penjelasan dan penerapan aturan tersebut. Hal ini menciptakan ketidakpastian di antara mahasiswa, yang pada akhirnya dapat memengaruhi motivasi dan kinerja akademis mereka.

Sikap Berkuasa yang Melebihi Batas

Dalam beberapa kasus, dosen yang memegang mandat sebagai 'ketua' dapat mengembangkan sikap berkuasa yang melebihi batas. Sebagai pemegang otoritas, seharusnya dosen dapat menjalankan tugasnya dengan adil dan transparan. Namun, beberapa kasus menunjukkan bahwa kekuasaan yang dimiliki dapat disalahgunakan, terutama dalam hal memberikan absen, menetapkan nilai, dan memberikan tugas akhir. Sikap ini dapat menciptakan ketidaksetaraan di antara mahasiswa dan merugikan proses pendidikan.

ilustrasi: GoogleMaps/STAI At-Taqwa Bekasi

Perlunya Harmonisasi Peran Dosen dan Aturan Kampus

Penting untuk mencapai harmonisasi antara peran dosen dan aturan kampus di STAI At-Taqwa Bekasi. Dosen sebagai agen pembimbing harus memahami bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk memberikan pedoman yang jelas terkait peraturan kampus kepada mahasiswa. Sebaliknya, aturan kampus harus dirancang dengan baik dan disosialisasikan secara efektif agar dosen dapat mengimplementasikannya dengan benar.

Peran Penting Koordinasi dan Komunikasi

Koordinasi dan komunikasi yang baik antara dosen dan pihak pengelola kampus adalah kunci untuk mencapai harmonisasi tersebut. Dosen perlu diberikan pemahaman yang mendalam tentang peraturan kampus dan dilibatkan dalam proses perancangan aturan yang relevan dengan konteks pembelajaran. Di sisi lain, pengelola kampus harus menjalankan peran pengawasan untuk memastikan bahwa aturan yang ada dijalankan dengan konsisten dan adil.


STAI At-Taqwa Bekasi memiliki potensi besar untuk mencetak generasi yang unggul dan berkualitas. Namun, tantangan terkait pemahaman dosen terhadap peraturan kampus dapat menjadi hambatan dalam mencapai tujuan tersebut. Melalui harmonisasi peran dosen dan aturan kampus, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih adil, transparan, dan memberikan dorongan positif bagi perkembangan mahasiswa. Koordinasi dan komunikasi yang baik akan menjadi kunci untuk mengatasi permasalahan ini dan memastikan bahwa pendidikan di STAI At-Taqwa Bekasi berlangsung secara efektif.
Loe Gak Males, Cuma Lagi Burnout Aja!

Loe Gak Males, Cuma Lagi Burnout Aja!

Ilustrasi: Unsplash/Annie Spratt

Kehidupan yang serba digital, sering kali memaksa kita untuk terus bergerak, mencapai target, dan menjadi produktif. Tuntutan ini kadang-kadang terlalu berat, dan seringkali kita merasa kelelahan. Kalimat "Loe Gak Males, Cuma Lagi Burnout Aja!" mungkin terdengar familiar bagi banyak orang. Kadang-kadang, kita merasa malas untuk melakukan sesuatu, padahal sebenarnya kita sedang mengalami kelelahan berat yang bisa memengaruhi kesehatan mental dan fisik kita.

Contoh di kehidupan nyata seringkali mencerminkan paradoks ini. Bayangkan seorang profesional muda yang bekerja di industri yang kompetitif. Dia adalah pekerja keras yang selalu tampak antusias dalam mengejar kesuksesan. Namun, suatu hari, dia merasa kelelahan yang mendalam. Bukan karena malas, melainkan karena burnout. Tugas-tugas yang menumpuk, tekanan kerja yang tinggi, dan ekspektasi yang terus-menerus membuatnya kehilangan semangat.

Seiring waktu, dia merasa sulit untuk bangkit setiap pagi dan pergi bekerja. Pekerjaan yang dulu dianggapnya sebagai passion, sekarang terasa seperti beban berat yang sulit diemban setiap harinya. Kesenangan dalam pekerjaan tersebut reda, digantikan oleh rasa kelelahan yang mendalam. Dia mungkin tampak malas atau kehilangan semangat, padahal sebenarnya dia sedang mengalami burnout yang serius.

Faktor-faktor yang menyebabkan burnout bisa sangat bervariasi. Misalnya, tekanan dari atasan yang terlalu tinggi, tuntutan deadline yang sulit dikejar, atau bahkan masalah dalam hubungan interpersonal di tempat kerja. Ketika semua ini bertumpuk, seseorang bisa merasa tidak mampu lagi untuk terus melangkah maju.

Kejadian serupa juga bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ibu rumah tangga yang bertanggung jawab untuk mengurus rumah tangga, anak-anak, dan mungkin juga bekerja di luar rumah bisa mengalami situasi serupa. Meskipun dia tidak malas, melainkan berjuang untuk menyeimbangkan semua tanggung jawabnya, sehingga pada suatu titik, dia merasa kelelahan yang luar biasa.

Media Sosial

Dalam era digital, keseharian yang diwarnai oleh media sosial juga bisa menjadi pemicu burnout. Menyusuri berbagai tampilan kehidupan yang sempurna dari orang lain di platform media sosial dapat menciptakan tekanan untuk mencapai standar yang mungkin tidak realistis. Ini bisa menyebabkan kelelahan yang mendalam dan kehilangan semangat untuk menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.

Bagaimana kita dapat mengatasi perasaan burnout ini? Pertama-tama, kita perlu mengakui bahwa kelelahan bukanlah tanda malas. Kelelahan adalah sinyal dari tubuh dan pikiran kita bahwa mereka butuh istirahat. Alih-alih memaksa diri untuk terus bekerja, memberi diri kita izin untuk istirahat adalah langkah pertama yang penting.

Dalam contoh profesional muda tadi, dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dia memutuskan untuk berbicara dengan atasan dan meminta dukungan. Memiliki percakapan terbuka tentang kelelahannya membuka pintu untuk solusi yang dapat membantu memulihkan keseimbangan hidupnya.

Seorang ibu rumah tangga juga bisa mencari dukungan dari keluarga atau teman-teman. Mendelegasikan tanggung jawab atau merencanakan waktu untuk istirahat dapat membantu mengurangi beban yang dirasakannya.

Dalam mengatasi burnout, penting untuk melakukan introspeksi terhadap gaya hidup dan ekspektasi yang diterapkan pada diri sendiri. Mungkin saatnya untuk mengevaluasi prioritas, menetapkan batasan yang jelas, dan menemukan cara untuk merayakan keberhasilan kecil sehari-hari tanpa terlalu banyak menekan diri.

⧫ ⧫ ⧫

Terkadang kita perlu mengenali bahwa kelelahan bukanlah hasil dari kemalasan. Melainkan, itu adalah tanda dari tubuh dan pikiran kita yang meminta istirahat. Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan ini, sangat penting untuk menghormati dan merawat diri sendiri. Menerima bahwa burnout bukanlah kelemahan, melainkan panggilan untuk merawat diri, adalah langkah pertama menuju pemulihan yang sehat.




Keep in touch!

See you, peace

Perguruan Tinggi dan Program Magang

Perguruan Tinggi dan Program Magang

Ilustrasi: Pexels/Fauxel

Program magang adalah batu loncatan penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri untuk dunia nyata. Namun, sayangnya, beberapa perguruan tinggi terkesan 'memaksa' mahasiswanya untuk mengikuti program magang tanpa mempertimbangkan aspek finansial dan sumber daya manusia yang diperlukan. Artikel ini mengungkapkan kekecewaan mahasiswa terhadap pendekatan semacam ini.

Bukan ATM Bergerak

Perguruan tinggi, kami bukanlah mesin ATM bergerak yang dapat ditarik dana tanpa batas. Kami memiliki keterbatasan finansial yang perlu diperhitungkan. Terlalu sering, program magang diwajibkan tanpa memperhitungkan beban finansial yang harus kami tanggung, mulai dari biaya perjalanan hingga biaya hidup di lokasi magang.

Dorongan Pendidikan yang Tak Terduga

Program magang yang diwajibkan tanpa pertimbangan finansial dapat memaksa mahasiswa untuk mengambil pinjaman tambahan atau menekan keluarga mereka secara finansial. Ini bukan pendidikan yang seharusnya kami terima - pendidikan harus membebaskan, bukan membebani.

Aspek Sumber Daya Manusia yang Terabaikan

Perguruan tinggi juga harus memperhitungkan ketersediaan sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung program magang. Magang yang efektif memerlukan pengawasan dan pendampingan yang memadai. Namun, terlalu sering, mahasiswa dibiarkan 'mengambang' di lokasi magang tanpa dukungan yang sesuai.

Kualitas Pengalaman yang Terancam

Program magang yang diwajibkan tanpa dukungan finansial yang cukup dapat mengancam kualitas pengalaman magang itu sendiri. Mahasiswa yang merasa terbebani secara finansial mungkin terpaksa bekerja lebih keras untuk mengatasi biaya yang dibebankan oleh kampus, yang pada akhirnya dapat mengganggu fokus mereka dalam mengambil manfaat maksimal dari pengalaman tersebut.

Perlunya Keseimbangan

Keseimbangan adalah kunci. Perguruan tinggi perlu mempertimbangkan dengan bijak bagaimana mereka memaksa mahasiswanya untuk mengikuti program magang. Dengan pertimbangan yang tepat, kampus dapat memastikan bahwa magang tetap bermanfaat tanpa memberatkan mahasiswa secara finansial.

So... 

Perguruan tinggi harus menghargai dan memperhitungkan aspek finansial serta sumber daya manusia yang diperlukan saat mewajibkan program magang. Mahasiswa tidak boleh dipaksa menjadi korban finansial dalam perjalanan pendidikan mereka. Pendekatan yang lebih bijak dan seimbang adalah kunci untuk memastikan program magang tetap bermanfaat dan relevan tanpa memberatkan mahasiswa.

Sama seperti tulisan sebelumnya. Banyak gagasan yang ingin di lontarkan soal program ini tapi, semua hal yang di lakukan seperti, mengais harapan di tengah kegelapan.
 
Oh ya... Lalu bagaimana dengan opini kalian? Buat kalian para mahasiswa, dimanapun kuliahnya, apapun jurusannya, Tetap semangat ya! 😉
Mengais Harapan Ditengah Kegelapan

Mengais Harapan Ditengah Kegelapan

Menyurakan Mereka yang Dilantarkan


Sebagai mahasiswa, kita dihadapkan pada kesempatan untuk mengabdi pada masyarakat melalui Program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Namun, tidak semua kampus menyediakan persiapan yang matang untuk program ini. Ini ditujukan untuk kampus-kampus yang kurang baik dalam mempersiapkan program KKN bagi mahasiswanya. Tanpa persiapan yang memadai, bagaimana kami dapat memberikan kontribusi yang nyata dan mengharumkan nama kampus?

"KKN, Bukan Hanya Formalitas"

Sayangnya, bagi kampus tertentu, Program KKN menjadi sekadar formalitas yang harus dilaksanakan tanpa memperhatikan kualitasnya. Mahasiswa dianggap seperti "paksaan" yang harus berpartisipasi, tanpa memperhitungkan potensi kontribusi positif bagi masyarakat. Kampus, apakah kita hanya 'mengejar' angka atau memperhatikan dampak nyata yang kami bisa berikan?

"Seleksi Superficial, Dampak Super Lemah"

Kampus dengan persiapan KKN yang tak matang juga cenderung melakukan seleksi mahasiswa secara superficial. Kriteria seleksi terkadang hanya sebatas nominal akademik tanpa mempertimbangkan kemampuan, minat, dan relevansi dengan lokasi KKN. Tidak adanya pertimbangan ini membuat kami berjuang tanpa arah, sehingga dampaknya pun menjadi super lemah.

"Panduan & Identitas yang Mengecewakan"

Sindiran pun muncul terhadap buku panduan dan identitas dalam program KKN yang kami terima. Sebuah panduan sisaan, dan identitas yang begitu rupanya. Entah di kemanakan yang sudah kami bayarkan.

"Dampingan Selayaknya Bidadari"

Bidadari yang terbang di atas kepala, begitulah bayangan kami tentang pendampingan dalam KKN. Namun, kenyataannya adalah kami dibiarkan sendiri di tengah kesulitan, tanpa bimbingan yang cukup dari dosen atau pihak kampus. Tidak adanya pendampingan yang memadai menjadikan kami terombang-ambing dalam medan tanpa arah yang jelas.


Mungkin dampaknya bisa sampai seperti,

"Evaluasi Macet di Jalan Tol"

Kampus dengan persiapan KKN yang kurang baik juga cenderung melupakan evaluasi dan monitoring program. Evaluasi menjadi seperti kendaraan yang macet di jalan tol, tidak ada tindakan lanjutan yang diambil berdasarkan temuan dan masukan dari mahasiswa peserta KKN. Hasilnya, program KKN tahun demi tahun hanya berputar pada pola yang sama, tanpa perbaikan yang berarti.


Sama seperti tulisan sebelumnya. Banyak gagasan yang ingin di lontarkan soal program ini tapi, semua hal yang di lakukan seperti, mengais harapan di tengah kegelapan.
 
Oh ya... Lalu bagaimana dengan opini kalian?

So, pastikan KKN kalian bermanfaat untuk diri kalian dan lingkungan tempat kalian tinggal. Menurutku KKN itu bukan jadi program perkuliahan, tapi program orang tua dalam mengajak keluarganya bersosialisasi.

Buat kalian para mahasiswa, dimanapun kuliahnya, apapun jurusannya, Tetap semangat ya!

KKN Untuk Mahasiswa

KKN Untuk Mahasiswa


KKN (Kuliah Kerja Nyata) merupakan wujud aktualisasi kompetensi mahasiswa, menurut Dirjen Dikti.

Menurut sejarah KKN muncul dari konsep atas kesadaran mahasiswa sebagai calon sarjana untuk dapat memanfaatkan sebagian waktu belajarnya menyumbangkan pengetahuan dan ilmu yang telah diperolehnya secara langsung dalam membantu memcahkan dan melaksanakan pembangunan dalam kehidupan masyarakat. (source : depublishstore.com)

Tujuan dan manfaat KKN sendiri yaitu :

  • Mendapatkan pengalaman untuk bekal setelah lulus
  • Berbagi ilmu berdasarkan kemampuan jurusan yang selama ini sudah dipelajari
  • Sebagai sarana untuk mentransformasikan ilmu di perguruan tinggi ke masyarakat di tempat mereka tinggal dan membantu masyarakat sekitar untuk memecahkan masalah secara komprehensif, lintas sektoral, pragmatis, dsb.

Ok, dari pengertian dan tujuan KKN di atas gue mengerti bahwa KKN ini penting banget bagi mahasiswa, di manapun mereka kuliah. KKN bisa menjadi wadah mereka untuk mereprentasikan ilmu yang mereka dapat, berbaur dengan masyarakat, dan bagian dari tri darma perguruan tinggi.

Setiap mahasiswa pasti berbeda, dalam bergaya, bertujuan, dan bersosialisasi. Banyak di antara mereka yang kuliah hanya jadi pengabul cita-cita orang tua, biar gampang kerja, dan memang ingin kuliah (dengan tujuannya masing-masing).

Dalam KKN pasti diperlukannya anggaran yang mengharuskan mahasiswa membayar administrasi untuk bisa mengikuti KKN tersebut, belum lagi di tambah dengan effort yang harus mereka keluarkan dalam kegiatan KKN nantinya!

Bagi sebagian mahasiswa senang bisa mengikuti KKN tapi, tidak semua senang. Bagi mahasiswa yang sudah aktif dalam lingkungannya (berbaur) seperti; ikut dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di tempat dia tinggal mulai dari acara keagamaan dan kenegaraan mereka ikut berpartisipasi bahkan andil dalam merumuskan masalah. Sehingga KKN menjadi tidak menarik untuk mereka ikuti.

Tidak sedikit mungkin bagi sebagian orang yang telah melakukan KKN, sama sekali tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya sendiri.

Membanggakan dirinya karena mengikuti KKN tapi, menutup dirinya dari lingkungan tempatnya tinggal.

Lalu, banyak kampus yang mewajibkan mahasiswanya mengikuti program KKN dan PPL, keduanya harus menggunakan biaya untuk menjadi pesertanya! jika seperti terus, untuk apa ada program magang dari pemerintah!

Banyak gagasan yang ingin gue lontarkan soal program di atas. 
Oh ya... lalu bagaimana dengan opini kalian?

So, pastikan KKN kalian bermanfaat untuk diri kalian dan lingkungan kalian tinggal. Menurut gue KKN itu bukan jadi program perkuliahan, tapi program orang tua dalam mengajak keluarganya bersosialisasi.

Buat kalian para mahasiswa, dimanapun kuliahnya, apapun jurusannya, Tetap semangat ya!



Keep in touch!

See you, peace



Buat Lu yang Suka Ngebatin

Buat Lu yang Suka Ngebatin


Gue tau apa yang sedang lu rasakan - Frustasi, penuh tekanan, ngebatin, hah.. apa lagi? Si paling paham tuh gue, wk.

Hi... gimana kabarnya? Alasan gue nulis ini karena ada manusia entah itu gue atau lu yang baca ini pasti pernah ngerasa 'nggak adil'! So... enjoy reading 📖

⧫ ⧫ ⧫

Gue tau klo lu lagi susah tidur malem bukan karena lu tidur siang tapi, karena banyak pikiran yang masuk, dan lu harus memproses itu semua, menyusunnya sampai seperti buku.

Pada saat bangun keesokan harinya, lu bilang sama diri lu "ini dia, lagi". Seolah-olah lu terjebak dalam lingkaran waktu, berurusan dengan omong kosong yang sama lagi dan lagi. Sebagian dari lu mungkin sampai bosen dengan peputaran ini.

Sampai akhirnya sebuah pertanyaan muncul : Apakah gue berada di tempat/posisi yang seharusnya?
Terus lu tidur dengan pikiran yang kacau lagi, dan lu harus merapihkannya lagi menjadi buku.

Sekarang lu udah tahu bahwa 'nggak apa-apa' karena belum mengetahui semuanya, gue akan bilang lu hebat karena bisa menerima kenyataan. Tapi, lu akan menghadapi tantangan yang lebih besar di hari ini, tentang perkembangan diri lu.

Lu mencoba menengok ke belakang dan melihat bahwa lu udah berjalan jauh dari tempat yang lu mulai dulu. Banyak jalan dan rintangan yang lu lalui, berhenti di setiap persimpangan untuk memeilih jalan mana yang akan lu lewati. Naik gunung, melewati lembah macam ninja hatori, wk. Dan lu bisa melewati itu semua sampai di titik ini.

Nah, sekarang lu udah nggak lagi nemu persimpangan jalan, akan tetapi jalan buntu. Udah nggak ada tuh lampu merah, kuning, hijau dilangit yang biru. Hanya lorong gelap dengan udara dingin, dimana tempat ini sama sekali nggak mau lu lewati. Tapi lu harus lewati ini semua karena nggak ada jalan lagi sampai lu bisa melewati lorong itu.

Berbagai macam pikiran muncul dikepala, membuat lutut bergetar, air mata dan keringat mengalir, dengan suara-suara yang menghantui di punggung dan kepala yang lu nggak bisa lihat. Ketakutan ini menguras semua energi lu. Samapi lu kehilangan minat untuk melakukan sesuatu yang awalanya lu suka seperti nulis, nonton film, baca buku, main sosmed, olahraga dan sebagainya.

Lu hebat karena memiliki 'pikiran' yang kuat, dan itu adalah sesuatu yang gue kagumi. Namun terkadang, itu bisa begitu kuat sehingga lu bahkan mengalah pada pikiran yang menyabotase diri sendiri.

Pikiran-pikiran ini mengaburkan pikiran lu untuk mengenali hal-hal yang biasa lu lakukan dengan baik hari ini dan fokus pada hal-hal yang tidak lu lakukan. Mereka menghentikan lu dari memanjakan diri sendiri pada hal-hal yang pantas lu dapatkan karena setiap kali lu melakukannya, rasanya salah. Lu tidak dapat menemukan cara untuk membebaskan diri dari zona lu saat ini, dan lu sendiri adalah faktor besar di dalamnya.

Bukan berarti gue menyalahkan diri lu, nggak sama sekali.

Jadi tolong tutup mata lu dan tarik napas dalam-dalam. Tenangkan diri lu. Saat ini, gue yakin lu tahu kalau lu belum ke mana-mana. Ndak apa-apa walaupun lu merasa seperti membuang-buang waktu tanpa melakukan apa-apa, itu bisa menjadi mekanisme koping pada diri lu. Tidak apa-apa.

Semua hal yang mengganggu pikiran lu ini malah membuat lu berpikir bahwa lu tidak mengalami kemajuan.Padahal tidak.

Ingatlah selalu bahwa lu bukan orang yang sama seperti kemarin. Lu berubah. meskipun itu tidak selalu berarti kalau lu mengalami kemajuan, itu juga berarti lu nggak diem.

Luangkan waktu untuk menghadapi situasi yang baru ini. Sebagai seseorang yang suka bergaul dengan orang lain, ini adalah masa yang sulit bagi kesejahteraan diri lu. But you'll see it though. Gue tahu karena lu selalu siap menghadapi tantangan.

Jika lelah, istirahatlah. Lihatlah kembali apa yang telah lu capai dan lihat hal-hal apa yang dapat lu lakukan dengan lebih baik. Bukan karena lu gagal, tetapi karena lu tahu ada cara yang lebih baik yang belum lu temukan.

Prosesnya bisa menakutkan dan berulang-ulang. Tapi anggap itu sebagai tahapan dalam permainan yang perlu lu selesaikan untuk mencapai tahap berikutnya. Mungkin di tahap ini, ada bagian-bagian yang hilang yang perlu lu temukan dan teka-teki yang perlu lu pecahkan untuk membuka pintu ke babak selanjutnya dalam hidup lu.

jangan hanya melihat kesabaran sebagai kebajikan, lu harus melihat kesabaran sebagai keterampilan. Jadi, lu harus belajar memanfaatkannya untuk kebaikan lu. Karena tantangan ini bukan lelucon, dan lu bahkan belum setengah jalan untuk mencapai tujuan yang lu ingin.

Remember, even if you’re not yet in a place where you want to be, you’re in a place that you worked hard for and you deserve it

⧫ ⧫ ⧫

Then what next? Cmo'n..
I suggest you to try smiling in every situation in order to make you feel the hope.




Keep in touch!

See you, peace