Game Perbandingan Rasa

Game Perbandingan Rasa

Loe pernah denger pepatah "Perbandingan adalah pencuri kebahagaiaan".  Tapi loe tau nggak kalo perbandingan juga bisa menjadi pencuri rasa sakit!

Berapa kali kita melepaskan diri dari ruang emosional dan mental untuk berduka dengan membandingkan rasa sakit kita sendiri dengan rasa sakit orang lain dan kemudian menganggap itu tidak sepadan?

Kita harus berhenti memainkan permainan perbandingan rasa sakit.


Tepat dua tahun yang lalu, semua realitas kolektif kita mulai tenggelam. Penguncian pandemi nasional telah dimulai. Siklus berita 24 jam menyediakan pembaruan terkini tentang kehancuran di seluruh dunia. Realitas yang sebelumnya tidak terlihat mulai terbentuk, tetapi semakin gue fokus pada momen ini, semakin kabur pemahaman gue tentang bagaimana menghadapinya.

Tindakan sehari-hari menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi kenyamanan, kenyamanan menjadi stabilitas – lalu apa yang terjadi jika semua itu diambil? Kita tidak memiliki apa-apa selain diri kita sendiri dan pikiran tanpa segala sesuatu yang kita tahu sebagai "normal".

Gue berjuang untuk tetap aktif, tenggelam dalam penolakan untuk mengakui bahwa ada yang salah dengan kemampuan gue untuk memproses kejadian di sekitar.

Tumbuh dewasa, gue diajari untuk bersyukur, bersyukur atas semua kesempatan luar biasa yang gue miliki sebagai seorang imigran di Ujung Harapan, bersyukur bahwa gue "berhasil" ketika begitu banyak keluarga lain tidak.

Tidak ada waktu untuk merasa ketika loe terlalu sibuk untuk bersyukur. Satu-satunya cara yang gue tahu untuk mengatasi rasa sakit adalah dengan merasionalisasi rasa syukur. Pikiran yang mulai terngiang di kepala gue adalah:

"Bagaimana kamu bisa begitu sedih ketika orang lain mengalami hal yang jauh lebih buruk?"

"Betapa tidak berterima kasihnya kamu sampai marah tentang hal ini ketika kamu memiliki begitu banyak hal untuk disyukuri?"

 

Trauma dan rasa sakit datang dalam berbagai bentuk dan ukuran, dan semakin cepat kita berhenti menilai diri sendiri dengan orang lain, semakin cepat kita dapat menyembuhkan dengan cara yang menyehatkan kita dan tidak menahan mereka.

Gue tidak menganjurkan untuk berhenti bersyukur – syukur harus menjadi inti dari semua yang kita lakukan, tetapi itu harus digunakan sebagai cara untuk membentuk perspektif loe, bukan mengendalikannya.

Media sosial meneriaki kita setiap hari bahwa kita harus bahagia; lihat semua orang yang bahagia! 

Kenapa loe tidak bisa seperti mereka? Kita terbiasa hidup di dunia di mana kita diberitahu bahwa segala sesuatu harus ada dalam dua cara (kata):

Loe mendukung atau menentang sesuatu, Loe membenci atau mencintai, Loe merasakan sakit atau kegembiraan. 

Mengapa kita tidak bisa merasakan keduanya? Mingkin untuk meminta rasa sakit loe harus duduk di samping tanpa menarik kebahagiaan dan keluar dari pintu. Saat loe menyambut emosi dari semua lapisan masyarakat sebagai tamu, mereka belajar untuk hidup berdampingan dalam keheningan.

Duduk dengan rasa sakit tidak berarti mengabaikan kebahagiaan. Saat kita muncul sebagai masyarakat, keluar dari bayang-bayang masa tergelap kita, kita semua belajar untuk sembuh bersama. Meski luka pandemi tidak akan pernah pudar, dengan bekas luka permanen yang membekas di hati kita, kita akan mampu melangkah maju dan menuju hal-hal yang lebih cerah, penuh harapan, penuh peluang baru.

Sama seperti kenangan akan masa-masa kelam yang bisa hidup berdampingan dengan harapan akan masa depan yang lebih cerah, kita bisa membuat tempat untuk diri kita sendiri di sini dan melangkah menuju cahaya di mana pun kita berada, kapan pun kita siap.


Wkkk.. Giman bre? Berat banget ya, bahasa yang gue pakai! Yah, namanya juga Thoughts.
Pokonya begitu deh, Emang hati sama pikiran tuh kadang suka berantem diem-diem, melawan ego dan nafsu yang sulit untuk di kendalikan.

Jadi, menurut loe gmna?




Keep in touch!

See you, peace