Malam Itu
meMalam itu rindu ini sangat menggebu-gebu, aku memotret mereka dengan penuh bahagia.
Jari ini tak sabar untuk menekan huruf-huruf di layar, walaupun sekedar "hmm", "iya" atau "oke", tapi ini beda, sederhana namun indah.
Sudah tak aneh rasanya ketika dua remaja sedang jatuh cinta, rasa rindu tumbuh seperti bunga yang tak pernah layu.
Malam itu setiap detik terasa seperti perjalanan yang panjang, karena jarak jauh ini yang memisahkan. Tebal kabut kesepian menyelimuti pikiran ini, dan hanya bayanganmu yang mampu mengusirnya.
Berpindah posisi dari singgah sana depan layar, ke posisi di atas kursi lipat dengan meja yang tertumpuk dari ban bekas. Membuka sosial media, menggulirkan layar ke atas-bawah, geser kanan kiri dan sesekali membuka galeri untuk melihat wajahnya.
Ponsel ini masih dalam genggaman tangan, seakan ini adalah jembatan yang menghubungkan jarak yang jauh ini. pesan-pesan pendek ini menjadi pelipur rindu, meskipun tetap tak dapat menggantikan kehadiranmu yang sebenarnya. Melalui layar itu, aku merasakan getaran kasih sayangmu, seolah engkau ada di sini, meski dalam bentuk virtual.
Ada kalanya rindu ini begitu menyakitkan. Terutama saat keseharianmu hanya bisa kuceritakan dalam kata-kata, dan pelukanmu hanya bisa kubayangkan. Namun, aku bersyukur atas waktu-waktu yang telah kita lewati bersama, dan aku percaya bahwa suatu hari nanti, kita akan bertemu, setidaknya bertemu dahulu dan semoga bisa tetap dipersatukan.
Antongrh