Realita Dibalik Nama IAN (Institut Attaqwa Bekasi)
ThoughtsThoughts - Perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat di mana mahasiswa bisa berkembang, baik dalam hal akademik maupun pribadi. Namun, bagaimana jika institusi yang seharusnya memberikan pelayanan terbaik justru mempermainkan para mahasiswanya? Fenomena ini sayangnya terjadi di Institut Attaqwa KH. Noer Ali, Bekasi, yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Attaqwa.
Perubahan nama dari STAI Attaqwa menjadi Institut Attaqwa KH. Noer Ali tentu diharapkan membawa perubahan positif, terutama dalam hal manajemen dan pelayanan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa perubahan tersebut lebih bersifat kosmetik, tanpa ada perbaikan nyata yang dirasakan oleh mahasiswa.
Contoh paling sederhana adalah pada pembuatan kartu mahasiswa. Bayangkan, sebuah institusi yang mengklaim dirinya sebagai perguruan tinggi, namun hanya mampu memberikan kartu mahasiswa berupa selembar kertas HVS yang dilaminasi. Bukankah ini sebuah penghinaan terhadap mahasiswa? Identitas mahasiswa seharusnya dijaga dan dihargai, bukan diperlakukan dengan cara yang begitu asal-asalan.
Selain itu, pengumpulan data mahasiswa yang berulang kali juga menunjukkan ketidakprofesionalan dalam manajemen data. Mahasiswa dipaksa mengisi atau mengumpulkan data yang sama berulang. Ini bukan hanya membuang waktu, tetapi juga menunjukkan betapa tidak efektifnya sistem yang diterapkan oleh kampus ini.
Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang seharusnya menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk berkontribusi langsung kepada masyarakat, justru diwarnai dengan ketidakjelasan. Informasi mengenai lokasi dan detail kegiatan sering kali berubah-ubah tanpa ada komunikasi yang baik kepada mahasiswa. Ketidakpastian ini tentu saja menambah beban mental bagi mahasiswa, yang seharusnya bisa fokus pada persiapan dan pelaksanaan KKN.
Baca Tentang KKN dan PPLK:
Puncaknya, ketika tiba saatnya wisuda, mahasiswa dihadapkan dengan seragam wisuda yang kualitasnya jauh dari kata layak. Sablon yang lepas, medali yang tidak presisi, hingga sisa benang yang masih menumpuk menunjukkan bahwa seragam tersebut diproduksi tanpa proses Quality Control (QC) yang memadai. Bagaimana kampus ini bisa bangga mempromosikan dirinya jika hal mendasar seperti ini saja diabaikan?
Semua ini menggambarkan betapa buruknya manajemen di Institut Attaqwa KH. Noer Ali.
Transformasi dari STAI menjadi Institut seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki segala aspek pelayanan dan manajemen, bukan sekadar perubahan nama tanpa makna. Jika situasi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin reputasi kampus ini akan terus menurun, dan minat calon mahasiswa untuk bergabung pun akan semakin berkurang.
Dalam dunia pendidikan tinggi, nama besar saja tidak cukup. Yang terpenting adalah kualitas dan integritas dalam memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa. Sayangnya, hal ini tampaknya belum menjadi prioritas di Institut Attaqwa KH. Noer Ali. Sudah saatnya pihak kampus membuka mata dan telinga, serta mulai memperbaiki diri, demi masa depan yang lebih baik bagi mahasiswa dan institusi itu sendiri.
Oh ya... Lalu bagaimana dengan opini kalian? Buat kalian para mahasiswa, dimanapun kuliahnya, apapun jurusannya, Tetap semangat ya! 😉