Ramai di Sekitar, Sepi di Dalam
ThoughtsKita bekerja, berbicara, tertawa, membalas pesan, membuka media sosial, lalu pulang dengan kepala yang tetap ramai. Dari luar, hidup terlihat normal. Kita masih bisa bercanda, masih bisa menjalankan kewajiban, masih bisa terlihat baik-baik saja.
Tapi ada sesuatu yang terasa kosong.
Bukan karena tidak punya teman. Bukan juga karena tidak ada orang di sekitar. Hanya saja, tidak semua orang benar-benar tahu apa yang sedang kita pikirkan. Tidak semua orang tahu seberapa berat hal-hal yang kita simpan sendiri.
Kadang kita hanya ingin duduk dan bicara tanpa takut dihakimi. Tanpa harus menjelaskan semuanya dari awal. Tanpa menerima nasihat yang sebenarnya tidak kita minta.
Namun, semakin dewasa, rasanya semakin sulit menemukan ruang seperti itu.
Kita Bertemu, tetapi Tidak Selalu Terhubung
Setiap hari kita bisa bertemu banyak orang.
Teman kantor, tetangga, keluarga, pelanggan, orang-orang di jalan, atau sekadar nama-nama yang muncul di layar ponsel. Kita saling menyapa dan bertanya, “Apa kabar?”
Pertanyaan sederhana yang hampir selalu dijawab dengan jawaban yang sama.
“Baik.”
Padahal belum tentu.
Mungkin kita sedang takut kehilangan pekerjaan. Mungkin sedang bingung dengan arah hidup. Mungkin ada masalah keluarga yang tidak bisa diceritakan. Mungkin kita sedang kelelahan memikirkan uang yang selalu habis sebelum semua kebutuhan selesai.
Tetapi kita tetap menjawab, “Baik.”
Bukan karena ingin berbohong. Kadang kita sendiri tidak tahu harus mulai bercerita dari mana.
Ada terlalu banyak hal yang bercampur di kepala. Terlalu banyak masalah yang saling berkaitan. Kita takut cerita kita terlalu panjang. Takut merepotkan. Takut dianggap tidak bersyukur. Takut orang lain hanya mendengar untuk kemudian membandingkan hidupnya dengan hidup kita.
Akhirnya, kita memilih diam.
Semakin Dewasa, Hidup Terasa Semakin Sunyi
Dulu, kita mungkin berpikir bahwa menjadi dewasa berarti bisa melakukan apa saja.
Punya penghasilan sendiri, menentukan pilihan sendiri, pergi ke mana pun yang kita mau, dan tidak lagi harus meminta izin untuk banyak hal.
Ternyata menjadi dewasa juga berarti mulai memahami bahwa tidak semua masalah punya jawaban cepat.
Kita mulai berhadapan dengan tagihan, pekerjaan, tanggung jawab keluarga, kesehatan, masa depan, dan keputusan-keputusan yang dampaknya tidak hanya dirasakan hari ini.
Kita juga mulai sadar bahwa setiap orang sibuk dengan perjuangannya sendiri.
Teman yang dulu sering mendengar cerita kita kini punya masalahnya sendiri. Orang tua mulai membutuhkan perhatian lebih. Saudara punya kehidupan masing-masing. Bahkan orang yang terlihat paling dekat pun belum tentu memahami bagian diri yang selama ini kita sembunyikan.
Bukan karena mereka tidak peduli.
Mungkin mereka juga sedang berusaha bertahan.
Di situlah kesendirian terasa aneh. Kita tidak benar-benar sendiri, tetapi kita juga tidak merasa sepenuhnya ditemani.
Uang Membuat Semuanya Terasa Lebih Berat
Banyak orang bilang uang bukan segalanya.
Itu benar.
Tetapi saat uang tidak cukup, banyak hal terasa jauh lebih berat.
Ketika kondisi keuangan tidak baik, masalah kecil bisa terasa besar. Kita menjadi lebih mudah cemas, lebih sulit beristirahat, dan lebih sering memikirkan hal-hal yang bahkan belum terjadi.
Bagaimana kalau bulan depan tidak cukup?
Bagaimana kalau tiba-tiba sakit?
Bagaimana kalau pekerjaan berhenti?
Bagaimana kalau keluarga membutuhkan bantuan?
Bagaimana kalau semua rencana harus ditunda lagi?
Kecemasan tentang uang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
Kita tetap datang bekerja. Tetap menjawab pesan. Tetap tersenyum. Tetapi di dalam kepala, kita sedang menghitung sisa saldo, cicilan, kebutuhan rumah, biaya transportasi, dan segala pengeluaran yang tidak bisa dihindari.
Di saat seperti itu, kesendirian terasa lebih dalam.
Kita ingin cerita, tetapi malu. Kita takut dianggap gagal mengatur hidup. Takut dianggap kurang bekerja keras. Padahal kadang masalahnya bukan karena kita boros atau malas. Kadang hidup memang sedang tidak mudah.
Penghasilan bertambah sedikit, kebutuhan bertambah banyak. Harga-harga naik. Tanggung jawab datang tanpa bertanya apakah kita sudah siap.
Kita kemudian belajar menyimpan semuanya sendiri.
Tidak Semua Orang yang Tersenyum Sedang Baik-Baik Saja
Mungkin orang yang duduk di samping kita juga sedang memikirkan hal yang sama.
Mungkin teman yang terlihat santai sedang berusaha menutup utang. Mungkin orang yang selalu bercanda sedang menghadapi masalah di rumah. Mungkin seseorang yang rajin mengunggah foto bahagia sebenarnya sedang merasa kosong.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dihadapi orang lain.
Karena itu, mungkin kita perlu berhenti terlalu cepat menilai kehidupan seseorang hanya dari apa yang terlihat.
Ada orang yang terlihat kuat karena memang tidak punya pilihan selain tetap berjalan.
Ada orang yang diam bukan karena tidak punya masalah, tetapi karena sudah terlalu lelah menjelaskannya.
Ada orang yang selalu membantu orang lain karena ia tahu rasanya tidak memiliki siapa-siapa saat sedang kesulitan.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita juga seperti itu.
Kita terlihat baik-baik saja karena hidup tidak memberi banyak waktu untuk berhenti.
Kita Tidak Harus Menyelesaikan Semuanya Hari Ini
Ada tekanan besar untuk segera berhasil.
Kita melihat orang lain sudah punya rumah, kendaraan, pekerjaan yang bagus, pasangan, tabungan, dan kehidupan yang terlihat lebih tertata.
Lalu kita melihat diri sendiri dan merasa tertinggal.
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana perjalanan mereka. Kita hanya melihat hasil akhirnya, bukan rasa takut, kegagalan, utang, kehilangan, atau malam-malam panjang yang mereka lalui.
Hidup bukan perlombaan yang semua pesertanya mulai dari tempat yang sama.
Ada orang yang sejak awal mendapat dukungan. Ada yang harus membangun semuanya sendirian. Ada yang bisa mencoba berkali-kali karena punya tempat untuk kembali. Ada juga yang harus berhati-hati karena satu kesalahan bisa membuat seluruh hidupnya berantakan.
Jadi, tidak apa-apa kalau hari ini kita belum sampai ke mana-mana.
Tidak apa-apa kalau kondisi keuangan kita belum stabil.
Tidak apa-apa kalau kita masih bingung.
Tidak apa-apa kalau sesekali merasa lelah dan sendirian.
Yang penting, jangan berhenti mengenali apa yang sedang terjadi dalam diri kita.
Mulai dari Hal yang Masih Bisa Kita Kendalikan
Kita memang tidak bisa mengatur semua hal.
Kita tidak bisa memaksa orang lain memahami kita. Tidak bisa mengendalikan harga kebutuhan. Tidak bisa memastikan pekerjaan akan selalu aman. Tidak bisa menjamin hidup akan berjalan sesuai rencana.
Tetapi masih ada beberapa hal yang bisa kita lakukan.
Kita bisa mulai jujur pada diri sendiri.
Mengakui bahwa kita sedang lelah bukan berarti lemah. Mengakui bahwa kondisi keuangan sedang berantakan bukan berarti gagal. Mengakui bahwa kita merasa kesepian bukan berarti kita tidak bersyukur.
Kita juga bisa mulai memperbaiki hidup dari langkah kecil.
Mencatat pengeluaran. Mengurangi hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Menyisihkan uang meskipun sedikit. Berhenti memaksakan gaya hidup hanya agar terlihat berhasil.
Kita bisa belajar meminta bantuan. Tidak harus kepada semua orang. Cukup kepada satu orang yang kita percaya.
Kita bisa mulai membuka percakapan yang lebih jujur. Bukan hanya bertanya, “Apa kabar?” tetapi juga benar-benar mendengarkan jawabannya.
Dan yang paling penting, kita bisa belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.
Tidak semua hari harus produktif. Tidak semua masalah harus selesai malam ini. Tidak semua kegagalan harus dianggap sebagai bukti bahwa hidup kita tidak akan berhasil.
Kadang, bertahan satu hari lagi juga merupakan bentuk keberanian.
Lakukan yang Terbaik, Meski Tidak Selalu Terlihat Hebat
Mungkin hidup kita tidak sedang berada di titik yang membanggakan.
Mungkin belum ada banyak hal yang bisa diceritakan. Belum punya tabungan besar. Belum punya pekerjaan impian. Belum punya pasangan. Belum punya rumah. Belum menjadi orang yang selama ini kita bayangkan.
Tetapi hidup tidak hanya dihitung dari pencapaian besar.
Hidup juga terdiri dari keputusan-keputusan kecil yang tidak dilihat siapa pun.
Bangun meski sedang kehilangan semangat.
Tetap bekerja meski hasilnya belum seberapa.
Menahan diri untuk tidak menghabiskan uang demi terlihat mampu.
Berusaha menjadi orang baik meski hidup tidak selalu memperlakukan kita dengan baik.
Menghubungi seseorang ketika kesendirian mulai terasa terlalu berat.
Mencoba lagi setelah berkali-kali gagal.
Semua itu mungkin terlihat biasa. Tetapi sering kali, justru hal-hal kecil itulah yang membuat kita tetap hidup.
Kita mungkin belum bisa mengubah seluruh keadaan hari ini.
Namun, kita masih bisa memilih untuk tidak menyerahkan hidup sepenuhnya kepada keadaan.
Kita masih bisa berusaha mengatur satu hal kecil. Menyelesaikan satu masalah. Menghemat satu pengeluaran. Menghubungi satu orang. Mengambil satu langkah.
Tidak harus hebat.
Tidak harus cepat.
Asal terus bergerak.
Karena mungkin tujuan hidup bukan selalu menjadi orang yang paling berhasil, paling kaya, atau paling dikagumi.
Mungkin tujuan kita hanya menjadi seseorang yang, meskipun berkali-kali merasa sendirian, tetap memilih untuk hidup dengan baik.
Tetap berbuat baik.
Tetap belajar.
Tetap berusaha.
Dan tetap percaya bahwa hidup yang hari ini terasa berat, suatu saat bisa menjadi cerita tentang bagaimana kita berhasil melewatinya.